Wednesday, July 23, 2014
makasih dan maaf
Dengan namamu tuhan
kucoba baca caramu mulai hidupku
Dari tiada jadi ada
Dulu aku hanyalah bayi berlumur darah
Sebelumnya hanya
tanah
tanpa takdirmu tentu tiada guna
tanpa kasihmu tentu tiada bahagia
tiada kata yang pantas terucap
selain makasih dan maaf
diri ini penuh daki
kucoba baca caramu mulai hidupku
Dari tiada jadi ada
Dulu aku hanyalah bayi berlumur darah
Sebelumnya hanya
tanah
tanpa takdirmu tentu tiada guna
tanpa kasihmu tentu tiada bahagia
tiada kata yang pantas terucap
selain makasih dan maaf
diri ini penuh daki
Labels: Puisi
DUA MATA
DUA MATA
Dua mata ini
Dua mata ini siapa yang memberi
Dengan mata ini dapat kunikmatii pelangi kunikmati puisi kunikmati televisi kunikmati sms putra-putri kunikmati paras isteri kunikmati ayat-ayat suci kunikmati ayat-ayat Ilahi
Dua mata ini
Siapa yang memberi
Muria, 25 Mei 2013
Dua mata ini
Dua mata ini siapa yang memberi
Dengan mata ini dapat kunikmatii pelangi kunikmati puisi kunikmati televisi kunikmati sms putra-putri kunikmati paras isteri kunikmati ayat-ayat suci kunikmati ayat-ayat Ilahi
Dua mata ini
Siapa yang memberi
Muria, 25 Mei 2013
Labels: Puisi
Ya Sin
Ya Sin
Kaulah utusan Tuhan
Untuk mengingatkan kami
Yang tuli
Bagaimana kau menasehati telinga
Yang buntu oleh bisik mesra musik
Dunia ini
Kaulah nabi
Untuk memberi petunjuk kepada kami
Yang buta
Bagaimana kau tunjukkan pada mata
Yang silau oleh pangkat
Palsu belaka
Kaulah rasul
Untuk mengajak kami
Yang mati
Bagaimana kau membimbing hati
Yang mengeras oleh emas
Perhiasan anak isteri
Tiada kata yang pantas kutulis
Selain terima kasih
Telah kau ingatkan kami
Yang mati hati
Kaulah utusan Tuhan
Untuk mengingatkan kami
Yang tuli
Bagaimana kau menasehati telinga
Yang buntu oleh bisik mesra musik
Dunia ini
Kaulah nabi
Untuk memberi petunjuk kepada kami
Yang buta
Bagaimana kau tunjukkan pada mata
Yang silau oleh pangkat
Palsu belaka
Kaulah rasul
Untuk mengajak kami
Yang mati
Bagaimana kau membimbing hati
Yang mengeras oleh emas
Perhiasan anak isteri
Tiada kata yang pantas kutulis
Selain terima kasih
Telah kau ingatkan kami
Yang mati hati
Labels: Puisi
Selaksa Shalawat
Selaksa Shalawat
Kuingin ikut-ikutan haturkan selaksa salam serta sejuta shalawat untukmu sang utusan Tuhan mulai malam ini hingga akhir zaman
Kuingin iringi setiap tarikan nafas ini dengan salam serta shalawat untuk nabi Muhammad mulai detik ini hingga hari kiamat
Semoga sampai mati aku bisa cinta nabi dengan sepenuh hati beserta semua anggota badan luar dan dalam bukan dengan cinta monyet apalagi cinlok
Pekalongan, 9 Juni 2013
Kuingin ikut-ikutan haturkan selaksa salam serta sejuta shalawat untukmu sang utusan Tuhan mulai malam ini hingga akhir zaman
Kuingin iringi setiap tarikan nafas ini dengan salam serta shalawat untuk nabi Muhammad mulai detik ini hingga hari kiamat
Semoga sampai mati aku bisa cinta nabi dengan sepenuh hati beserta semua anggota badan luar dan dalam bukan dengan cinta monyet apalagi cinlok
Pekalongan, 9 Juni 2013
Labels: Puisi
Kau Panggil Aku
Kudengar adzan
Tapi kuselesaikan sekalian pekerjaan
Pekerjaan ini dan itu yang tak kunjung selesai
Kudengar adzan
Tapi kulanjutkan obrolan
Obrolan mengalir ngalor-ngidul tak berujung
Kudengar adzan
Tapi kuperpanjang lagi tidur panjang
Apalagi saat liburan
Kudengar adzan
Tapi kutunggu iklan menjeda siaran tv
TV yang ini sedang iklan
TV yang lain mungkin punya siaran yang lebih asyik
Kudengar adzan
Satu jam kemudian
Aku belum beranjak
Dua jam kemudian
Aku masih sibuk
Tiga jam kemudian
Aku menghadapmu
Dalam sholat aku berbusik
Ya Allah, Maaf aku sedang sibuk.
Mohon dimaklumi ya Allah
Bugel, 25 Mei 2013
Tapi kuselesaikan sekalian pekerjaan
Pekerjaan ini dan itu yang tak kunjung selesai
Kudengar adzan
Tapi kulanjutkan obrolan
Obrolan mengalir ngalor-ngidul tak berujung
Kudengar adzan
Tapi kuperpanjang lagi tidur panjang
Apalagi saat liburan
Kudengar adzan
Tapi kutunggu iklan menjeda siaran tv
TV yang ini sedang iklan
TV yang lain mungkin punya siaran yang lebih asyik
Kudengar adzan
Satu jam kemudian
Aku belum beranjak
Dua jam kemudian
Aku masih sibuk
Tiga jam kemudian
Aku menghadapmu
Dalam sholat aku berbusik
Ya Allah, Maaf aku sedang sibuk.
Mohon dimaklumi ya Allah
Bugel, 25 Mei 2013
Labels: Puisi
Di balik baju takwamu
Di balik baju takwamu
Terlihat samar tapi jelas terbaca
Partai ini pilihanku
Tapi aku ragu
Maukah kau ikut pemilu
Di balik baju takwamu
Jelas terbaca meski samar
Gambar partai itu ganggu takbirku
Allahu Akbar
Sudikah kau kalau tak dibayar
Di balik baju takwamu
Slogan politik mengusik hati
Buyarkan konsentrasi menghadap Ilahi
Mungkin tidak jadi begini kalau
Aku jama'ah di baris pertama
Mungkin tidak jadi begini kalau
kepala selalu menunduk
Menuju sujud
Di balik baju takwamu
Kaos partai itu
Membuatku makin benci partai
Politik
Terlihat samar tapi jelas terbaca
Partai ini pilihanku
Tapi aku ragu
Maukah kau ikut pemilu
Di balik baju takwamu
Jelas terbaca meski samar
Gambar partai itu ganggu takbirku
Allahu Akbar
Sudikah kau kalau tak dibayar
Di balik baju takwamu
Slogan politik mengusik hati
Buyarkan konsentrasi menghadap Ilahi
Mungkin tidak jadi begini kalau
Aku jama'ah di baris pertama
Mungkin tidak jadi begini kalau
kepala selalu menunduk
Menuju sujud
Di balik baju takwamu
Kaos partai itu
Membuatku makin benci partai
Politik
Labels: Puisi
Peri Penjaga Goa Rahasia
Peri
Penjaga Goa Rahasia
Cerpen Anak karya
Faiq Aminuddin
Namaku
Siti Mariam. Aku kelas enam. Adikku kelas tiga. Namanya Zulaiha. Dia
memang pintar tapi terlalu suka komentar. Uang sakuku selalu habis
untuk jajan. Maka dia komentar, “Uang saku Kakak lebih banyak tapi
kok tidak pernah mengisi kaleng tabungan.” Aku minta dibelikan tas
yang warna biru. Maka dia komentar, “Tas Kakak yang lama kan masih
bagus kok minta tas baru.” Suaraku agak serak. Maka dia komentar,
“Makanya jangan terlalu banyak maka bakwan, Kak.” Aku melempar
tas sepulang sekolah. Maka dia komentar, “Kak, tasnya masuk
keranjang sampah.” Karena dia cerewet sekali, maka aku tidak
peduli.
Pagi
ini dia mengganggu mimpiku lagi. “Kak, sudah pagi. Kak, cepetan
mandi! Kak, pelajarannya apa hari ini? Kak, Ibu dan Bapak sudah
pergi. Sarapan kita di dalam lemari. Katanya kalau mau tambah lauk,
kita disuruh beli sendiri. Kak, cepetan mandi! Tas Kakak sudah kuisi
buku pelajaran hari ini. Kak, tas baru kok lubang begini? Kak, Aku
pergi beli krupuk chiki. Kak, cepetan mandi!!!
Aku
bangkit karena ingin menyumpal mulutnya dengan bantal. Adik kabur.
Aku pergi ke sumur. Selesai mandi dan ganti pakaian, aku ke meja
makan. Adik datang membawa krupuk chiki kesukaaanya. Aku tahu Adik
lebih suka hadiahnya dari pada makan krupuknya. “Lho, kok aku
tidak dibelikan bakwan?” tanyaku menyelidik.
“Kakak
tadi tidak bilang, sih,” bantah adik.
“Ayo
belikan bakwan dulu,” perintahku dengan nada menghardik.
“Uangnya
mana?” Adik bertanya lagi.
“Pakai
uangmu dulu. Nanti aku ganti.”
“Awas
kalau Kakak bohong lagi.”
Adikku
memang sangat cerewet tapi juga sangat penurut. Apalagi kalau
diperintah oleh kakaknya yang sangat sangar ini. Walaupun cewek, aku
tidak suka mewek. Aku mau jadi perempuan yang perkasa. Makanya
aku minta dibelikan tas baru yang berwarna biru. Aku tidak suka lagi
tas lamaku yang berwarna pink. Menurutku warna pink itu miring dan
warna biru itu kuat seperti batu. Menurut Adik, biru itu indah
seperti langit. Adik masih memakai tas lamanya waktu sekolah TK
Pertiwi. Warna birunya sudah memutih di sana-sini.
Adikku
memang cerewet sekali tapi sangat baik hati. Dia rela membongkar
kaleng tabungannya. Uangnya diserahkan pada ibu semua.
“Untuk
belikan Kakak tas,” katanya. Ibu tidak mau, tapi dia memaksa.
“Aku
tidak mau Kakak ngamuk seperti orang gila.” Aku sangat malu tapi
juga sangat senang karena akan dibelikan tas baru. Akhirnya aku punya
tas baru yang berwarna biru. Oh sungguh senang hatiku.
Adik
datang dengan membawa bakwan teri.
“Mana
krupukku?” tanya adik sambil menjungkir bungkus krupuk di atas
piring nasi. Tidak ada krupuk yang jatuh ke atas nasi. Semua sudah
kumakan tadi. Untung masih ada hadiah stiker gambar ibu peri. Adik
lebih suka hadiahnya dari pada makan krupuk chiki. Maka kubagi bakwan
kesukaanku untuk sarapan nasi pecel bersama adikku yang cerewet ini.
“Kak,
bakwan amis begini kok Kakak suka?” tanya adik sambil mencium
bakwan teri.
Aku
ingin membentaknya tapi tidak jadi. Aku teringat bahwa kemarin, waktu
istirahat, aku jajan seplastik es dan bawan teri banyak sekali.
Ketika waktu istirahat habis, bakwan teriku belum habis. Maka aku
bawa ke dalam kelas. Karena takut ketahuan Pak Wali Kelas maka aku
masukkan ke dalam tas.
“Baunya
amis tapi kok rasanya enak ya, Kak?” Tanya Adik membuyarkan
lamunanku.
“Kamu
mau lagi? Aku masih punya,” jawabku.
Adik
melongok ke piringku yang sudah kosong. “Bohong!”
“Di
dalam tas. Kemarin aku beli dua belas,” jawabku dengan suara keras.
Adik
segera berlari ke dalam kamar. Tidak lama kemudian membuka tasku
dengan kasar. “Mana? Tidak ada....” tanya adik sambil berlari
kembali ke dalam kamar.
Aku
jungkir tas di atas meja makan. Buku pelajaran berjatuhan bersama
remah-remah bakwan. Tidak ada bakwan.
“Tidak
ada, Kak.” teriak adik dari dalam kamar.
Tidak
ada?! Siapa pencurinya? Siapa lagi kalau bukan dia, adik paling usil
sedunia. Setiap pagi dia membongkar tasku seenaknya. Siapa lagi
pencurinya kalau bukan dia, Si Zulaiha.
“Pasti
kamu yang mencuri!” Hardikku sambil menunjuk hidung adik.
Kepala
adik digeleng-gelengkan. “Aku kan tidak suka bakwan.”
Aku
periksa semua bagian tas, dari bawah hingga atas. Dari depan, tengah,
dan belakang hingga tuntas. Masih tercium bau amis yang khas. Bau itu
berasal dari belakang tas. Aku rogohkan tanganku ke dalam tas. Kuraba
pojok kanan, tidak ada bakwan. Kuraba pojok kiri, malah kulihat
jariku sendiri. Jari tanganku menyembul keluar dari dalam tas yang
baru umur sehari.
“Kau
apakan tasku? Mengapa bisa berlubang seperti ini?” Aku berteriak.
Adik mendongak. Tas aku lempar. Adik tersenyum lebar.
“Aku
tahu yang mengambil bakwan.”
“Siapa?”
Tanyaku penasaran.
“Tikus!”
Jawab adik dengan nada yang meyakinkan.
Aku
perhatikan lubang itu dengan serius. Sepertinya memang bekas gigitan
tikus. Aku ingin tikus itu segera mampus. Gara-gara tikus sialan itu,
tasku jadi tidak bagus. Semangat sekolahku tiba-tiba pupus.
“Kamu
berangkat sendiri saja. Aku tidak sekolah.”
“Wah
Kakak payah!” Adik membantah. “Gara-gara tas berlubang saja,
tidak sekolah? Sini biar Adik sulap jadi lebih indah.”
Adik
menambal lubang itu dengan stiker-skiter koleksinya. Gambar-gambar
ibu peri itu seakan sedang menjaga goa rahasia. Adik mengajakku
segera mengayuh sepeda.
“Ayo,
Kak... Kayuh yang kuat. Cepat! Lebih Cepat! Kakakku memang hebat.
Ayo, Kak... Kayuh lebih kuat. Aku tidak mau terlambat!”
Adikku
memang sangat cerewet tapi ternyata sangat baik hati. Sungguh, aku
malu sekali. Sambil mengayuh sepeda aku bejanji dalam hati; nanti
siang akan kusimpan tas ini di dalam lemari. Nanti malam akan kuganti
isinya dengan pelajaran besok pagi. Besok, aku akan bangun sebelum
ayam berkokok, segera mandi dan menyiapkan sarapan bersama adikku
yang sangat baik hati. Biarlah bapak dan ibu berangkat kerja
pagi-pagi. Aku harus bisa mandiri mengurus adik dan diri sendiri.[]
Labels: Cerita Anak
Wednesday, December 08, 2004
Membelah Bola
Membelah Bola
Ceita anak oleh Faiq Aminuddin
Apa yang kau rasakan bila tiba-tiba kau menemukan uang sepuluh ribu di jalan? Kau pasti senang sekali.
Kemarin siang aku menemukan barang yang lebih berharga. Aku sangat senang walaupun yang kutemukan bukan uang sepuluh ribu.
Siang itu aku jalan-jalan bersama temanku. Kami hanya berdua. Di suatu jalan kulihat sebuah bola. Temanku kuberitahu kalau ada bola tergeletak di bawah semak-semak. Setelah tengak-tengok ke kanan kiri, dia segera mengambil bola itu. Tidak ada orang yang melihat kami mendapat bola di tepi jalan ini. Sebuah bola kasti yang maih baru. Aku senang sekali. Sudah lama sekali aku ingin punya bola kasti. Aku sudah minta pada ibu. Tapi ibu belum juga membelikannya.
“Ayo sepak bola,” ajak temanku.
Kami segera berlari ke lapangan di tepi sungai. Main sepak bola dengan bola kasti ternyata asyik juga. Tapi agak susah menyepaknya. Bahkan kadang kakiku malah membentur tanah hingga sakit sedangkan bolanya tetap diam tak bergerak.
Hari makin panas. Aku sudah capek dan lapar. Aku mau istirahat. Sebenarnya tadi kami sepakat bertanding untuk merebutkan bola itu. Siapa yang menang, dialah yang akan mendapat bola temuan itu. Tadi aku yakin aku pasti menang. Tapi ternyata aku tidak bisa memasukkan bola ke gawangnya. Mungkin karena gawangnya terlalu sempit. Ya, kubuat gawang itu hanya selebar tiga jengkal. Sedangkan temanku ini tidak kuat berlari. Dia tidak pernah menyerang. Dia hanya menjaga gawangnya terus. Jadi, tidak ada yang menang.
Kuambil bola itu dan kuajak temanku pulang. Ketika aku mau masuk rumah dia meminta bola itu. Aku tidak mau. Menurutku bola ini milikku karena aku yang melihat pertama kali. Tapi dia tidak terima. Katanya bola itu milik dia karena dia yang mengambil bola itu. Tapi dia mengambil bola itu kan karena kuberitahu. Coba kalau tidak aku beritahu. Dia tetap ngotot. Dia merebut bola itu.
“Kalau begitu, kita bagi saja bola ini,” usulku.
Dia mengangguk.
Aku berlari ke dalam rumah. Kuambil pisau.
Aku ingat kejadian kemarin.
Kemarin, ada tetangga yang mengirim sekotak makanan. Isinya macam-macam. Ada nasi dan lauk pauk. Ada kue dan buah apel tapi hanya satu. Aku mau apel itu tapi adik sudah mengambilnya. Aku merebutnya. Adik menangis. Lalu bapak membelah apel itu menjadi dua. Separoh untukku. Separoh lagi untuk adik. “Jadi, nggak perlu rebutan kan?!” Kata bapak sambil mencubit pipiku.
Kubelah bola kasti itu dengan pisau. Ya, kubelah dengan pisau seperti membelah buah apel. Yang separoh nanti buat aku dan separoh yang lain untuk temanku.
“Adil kan?!” tanyaku dalam hati.
Tapi pisau tidak mempan. Bola kasti itu keras dan alot. Sampai tanganku capek, bola itu masih utuh. Belum belah sedikitpun. Sekarang ganti temanku yang mencoba membelahnya. Dia juga tidak bisa membelah bola itu.
Sekarang aku tahu. Bola itu harus dibelah seperti orang membelah kayu. Biasanya orang membelah kayu dengan kapak. Kapak itu diangkat tinggi-tinggi lalu diayukan dengan cepat.
Kuangkat pisau tinggi-tinggi.
“Satu, dua, ti…ga,” kuberi aba-aba sendiri.
Dengan sekuat tenaga kuayunkan pisau itu ke atas bola itu sambil berteriak “Hiaaat!!”
Crash!!!
“Aduuhhh!” Tanganku sakit sekali.
Ternyata pisau itu mental dan terlepas dari tangan. Pisau terlempar. Aku tidak tahu bagaimana geraknya. Tiba-tiba pisau itu sudah menancap di lenganku. Darah keluar banyak sekali. Lenganku jadi merah semua.
“Aduuhhh. Hua hua… aduuuuh…”
Untung ibu segera datang. Darah dan lukaku dibersihkan. Ibu mengajakku ke belakang rumah. Di sana lukaku ditetesi getah pohon yodium.
“Aduuuh periiiih!” Temanku ikut meringis melihatku kesakitan. Kata ibu lukaku mungkin perlu dijahit oleh dokter. Jadi, aku diajak ke puskesmas.
Sebelum berangkat aku minta ibu membelahkan bola kasti itu.
“Lho ini bola siapa?” Tanya ibu.
Kuceritakan bahwa tadi aku menemukan bola itu di tepi jalan lalu temanku itu mengambilnya lalu kami rebutan bola itu.
“Dari pada rebutan, kan lebih baik dibelah. Ya kan, Bu?!” tanyaku.
Ibu menggeleng.
“Sebaiknya kalian mencari siapa yang punya. Kembalikan bola ini padanya. Kalau bolamu hilang tentu kau akan sedih. Yang kehilangan bola ini mungkin sedang mencari-carinya. Kita tidak boleh mengambil dan memiliki barang orang lain walaupun tergeletak di tepi jalan.
Ayo kita ke Puskesmas. Nanti keburu tutup.” []
Labels: Cerita Anak
HUJAN-HUJANAN DI DALAM RUMAH
HUJAN-HUJANAN DI DALAM RUMAH
Cerita anak oleh Faiq Aminuddin
Bila hujan turun, kau tentu senang. Aku juga senang.
Lihat. Langit mulai mendung. Angin sudah bau air hujan.
Lihat. Ada air yang menetes di ujung hidungku. Tengadahkan tanganmu ke atas langit nanti pasti kau diberi beberapa tetes air. Hai, Ayo masuk ke rumah. Hujan sudah mulai turun. Ayo cepat. Nanti baju kita basah. Ayolah, nanti ibu marah lho. Ayo kita lihat hujan di balik jendela saja.
Lihat. Bunga-bunga di depan rumah itu. Dia pasti merasa sangat segar. Saking gembiranya dia sampai menari-nari. Ya, bergoyang meliuk-liuk bersama teman-temannya. Kembangnya basah. Daunnya basah. Tangkainya basah. Akarnya yang di dalam tanah pasti basah juga.
Lihat pohon asam di pojok halaman itu. Dia seperti itik yang baru saja mentas dari kolam. Titik-titik air bercipratan ke sana ke mari ketika itik itu mengibas-ngibaskan sayapnya. Pohon asam itu juga begitu. Daun-daunya yang kecil-kecil itu menadahi guyuran air hujan. Ketika ada angin agak kecang, pohon asam akan bergoyang-goyang sehingga titik air berjatuhan dari sela-sela daun-daunnya. Setiap titik air yang jatuh, menimpa air yang mengalir di tanah, membentuk gelombang kecil melingkar. Ya lingkaran gelombang itu kecil-kecil, lalu membesar hingga saling bertabrakan atau malah ketetesan air lagi dan jadi lingkaran baru lagi…
Sebenarnya aku juga ingin hujan-hujanan. Ya hujan-hujanan lagi seperti kemarin. Kemarin kudengar ibu berteriak-teriak memanggilku. Ibu menyuruhku masuk ke rumah. Ibu melarangku hujan-hujanan. Tapi aku tetap berlari-lari di halaman rumah, menikmati guyuran air hujan. Aku berlari ke halaman sekolah. Di sana banyak teman-teman. Kami berjingkrak-jingkrak, berteriak-teriak, berkecipak, bermain air sepuasnya. Asyik sekali. Ya sangat menyenangkan. Tapi, benar kata ibu. Tadi malam badanku demam. Tenggorokanku gatal hingga aku batuk. Kata ibu itulah hasil dari hujan-hujanan. Sampai sekarang batukku belum sembuh. Kata ibu, kalau mau batukku lebih parah lagi aku boleh hujan-hujanan lagi.
Hai, usaplah kaca jendelamu. Iya lama-lama kaca jendela jadi buram karena berembun. Usaplah dengan tanganmu biar bening lagi. Lihat. Ada teman-temanku yang sedang hujan-hujanan. Mereka pasti menuju ke halaman sekolah. Sekarang mereka tertawa-tawa, nanti malam baru tahu rasa. Sekarang senang-senang, nanti malam kesakitan. Badan demam dan tengorokan gatal. Rasain!
Eh. Aku tidak boleh berdoa seperti itu ya?! Seharusnya aku berdoa semoga teman-teman kita tetap sehat. Ya tuhan, lindungilah teman-temanku. Semoga teman-temanku yang hujan-hujanan itu tidak terserang demam dan batuk sepertiku. Amin.
Ah hujan mulai reda. Tinggal gerimis. Ayo kita keluar. Hai, lihat. Di sana ada pelangi. Merah, kuning, hijau, biru. Oh indahnya. Aku ingin naik ke langit lewat pelangi itu. Kata orang pelangi itu adalah selendang yang digunanakan bidadari untuk turun ke bumi. Bidadari itu mau mandi. Tapi mengapa bidadari mau mandi di sungai bumi? Mungkin sungai di langit kering karena airnya turun ke bumi jadi hujan.
Ah itu bapak sudah pulang. Bapak pasti dari sungai. Setiap turun hujan, bapak memang pergi ke sungai. Bapak menacri ikan dengan jala. Kata bapak, kalau hujan turun, biasanya banyak ikan yang berenang ke pinggir. Jadi, mudah ditangkap.
“Pak, apakah bapak lihat bidadari?"
“Bidadari?! Di mana?”
“Itu ada pelangi. Pasti ada bidadari mandi di sungai sana. Tadi, bapak tidak ketemu bidadari?”
“Wah mungkin bidadari itu tidak jadi mandi di sungai.”
“Kenapa, Pak?”
“Lha sungainya kotor. Airnya kuning keruh dan banyak sampah-sampah yang ikut hanyut. Mungkin akan datang banjir. Ayo kita siap-siap.”
Aduuh tahun kemarin kan sudah banjir. Masa sekarang banjir lagi. Tapi mungkin bidadari itu bisa menolong kita. Hai bidadari tolong jagalah sungai agar airnya tidak meluap ke kampung. Hai bidadari. Apakah kau mendengar suaraku?[]
Labels: Cerita Anak
Porong yang Terkejut
Porong yang Terkejut
Cerita Anak oleh Faiq Aminuddin
Apakah kau percaya percikan air bisa memecahkan kaca? Malam itu, bapakku bilang porong teplok itu pecah karena kena percikan air. Porong kan terbuat dari kaca. Masa bisa pecah hanya gara-gara percikan air? Menurutku porong itu pecah karena dipukul hantu.
Waktu itu di desaku belum ada PLN. Seperti biasanya, sore itu aku menyiapkan lampu teplok. Aku harus membersihkan porongnya dan mengisi minyak tanahnya. Porong kuelap dengan kain sehingga terlihat bening lagi. Tidak ada hangus hitamnya lagi. Porong yang sudah bersih kuletakkan di atas meja. Aku mau membersihkan porong yang lain. Tiba-tiba porong itu menggelinding ke pinggir meja dan jatuh ke lantai. Prang!!!
Untung saja. Ibu tidak marah. Kata ibu “Hati-hati. Belingnya disapu dulu. Bahaya kalau kena kaki.” Setelah menyapu membersihkan pecahan porong yang berserakan di lantai, ibu menyuruhku membeli porong baru. Aku ke warung dengan sepeda. Kukayuh sepeda dengan cepat. Sampai di rumah aku terkejut. Porong baru sudah retak. Dan waktu mau kupasang malah pecah. Ibu marah-marah. Kata bapak porong itu pecah karena terbentur stang sepeda. Ya, porong itu dimasukkan ke dalam kresek. Kresek itu kugantungkan di stang. Mungkin kresek itu bergoyang-goyang dan membentur-bentur pipa sepeda.
Biasanya, tiga teplok kusulut semua. Tapi malam itu hanya kusulut dua teplok karena teplok satu tidak ada porongya. Setelah makan malam ayah menyuruh kakak dan aku belajar. Biasanya aku belajar di mejaku, pakai satu teplok sendiri. Kakak juga begitu. Sedangkan ibu dan bapak membaca buku di meja makan, hanya memakai satu teplok. Tapi malam ini aku harus belajar di meja makan. Dua teplok diletakkan di tengah meja. Kami duduk mengelilingi meja. Kakak selalu menggerutu dan menyalahkan aku. Sebel. Kan aku tidak sengaja memecahkan porong itu.
Sebenarnya aku sudah lama ingin kecing tapi aku tahan. Kalau aku kencing, kakak pasti menggerutu karena teploknya kubawa ke belakang. Tapi lama-lama aku tidak kuat menahan. Celanaku sudah basah sedikit. Maka segera kuambil salah satu teplok. Kakak membentakku. Aku segera berlari ke belakang hingga teplok itu hampir mati. Teplok kuletakkan di atas padasan. Setelah kencing aku cuci muka. Biar tidak ngantuk.PR-ku belum selesai.
Kratak!
Ada suara aneh. Entah suara apa. Cepat-cepat aku kututup padasan dan segera kuambil teplok. Tapi…
Prang!
Porongnya pecah, hingga tinggal separoh. Aku tidak tahu mengapa porong itu tiba-tiba pecah. Jangan-jangan ada hantu yang menggangguku…. Aku takut sekali. Aku berteriak “Aaaaa.. Tolooooong!” Bapak datang. Aku dituntun dan didudukan di kursiku. Ibu bertanya “Kenapa, Nak?” Kakak bertanya pada bapak “Adik kenapa, Pak.” Bapak mengambil menuang air di gelas. Ibu menyodorkan gelas itu padaku. “Ayo minum dulu, biar tenang.”
Ya. Setelah minum aku gak tenang. Dadaku terasa lebih lega. “Kamu kenapa, Nak? Bapak dan ibu bertanya bersamaan. “Ada hantu, Bu,” jawabku. “Kamu melihatnya?” Aku menggeleng lalu kuceritakan kejadiaannya. Tapi bapak malah tertawa dan berkata “Kamu ini ada-ada saja. Ha ha ha. Masa anak bapak kok penakut. Eh di rumah ini tidak ada hantu…” Aku menyela “tapi hantu itu memecah porong…” Tapi kata bapak porong itu pecah karena kena air yang nyiprat-nyiprat saat aku cuci muka. Benarkah?
Pagi harinya aku masih penasaran kejadian malam itu. Aku masih belum percaya. Masa porong bisa pecah karena percikan air. Padahal airnya dingin. Kalau disiram air panas, mungkin aku bisa percaya. Mengapa? Karena dulu aku pernah melihat sendiri. Waktu itu aku mau membuat susu. Air ditremos sudah habis. Tapi kebetulan ibu sedang merebus air. Kuambil air yang sudah mendidih itu dengan gayung lalu kutuang ke dalam gelas. Tiba-tiba gelas itu pecah. Air tumpah. Lantai dapur jadi basah. Mungkin saja porong akan pecah kalau disiram air panas seperti itu.
Siang itu aku mau membuktikan sendiri. Kuambil porong dan kubawa ke belakang. Kusiram porong itu dengan air padasan. Horeee!! Dugaanku benar. Porong itu tidak pecah. Tiba-tiba ibu datang. “Lho, sedang ada kamu?” Aku agak terkejut. “Bapak bohong,” kataku. Wajah ibu mengkerut, “Bohong? Bohong apa?”
Wah payah. Ibu tidak tahu maksudku. Maka kutunjukkan porong itu pada ibu. Kuangkat tingi-tinggi porong yang masih basah itu. “Tadi malam bapak bilang porong itu pecah karena percikan air. Tapi nyatanya porong ini kusiram dengan air saja tidak pecah. Jadi, bapak bohong, Bu.” Aku senang karena ibu tersenyum dan mengangguk. Tapi porong yang kupegang itu lepas dari tanganku, jatuh. Prang ! Porong pecah. Jadi, sudah tiga porong aku pecahkan.
Untung ibu tidak marah. Kata ibu, tadi malam, porong pecah itu karena terkejut. Porong itu pasti panas karena teploknya menyala. Dia terkejut bila kena air dingin. “Ya. Seperti gelas yang terkejut karena tiba-tiba diisi dengan air yang panas sekali,” kata ibu sambil menemaniku membersihkan pecahan-pecahan porong. “Tapi kalau orang terkejut kok tidak pecah, Bu?” Ibu tersenyum. “Kamu ini ada-ada saja. Tapi ada juga orang yang meninggal karena terkejut. Yaitu orang yang punya penyakit jantungan.”
Labels: Cerita Anak
Catatan: Haram hukumnya membaca lembaran jumat ini sewaktu khotib sedang khotbah.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita semua dari segumpal darah. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada rasul akhir zaman Muhammad shollawohu alaihi wassalam yang telah membebaskan kita semua dari jurang jahiliyah.
Saudara-saudara jamaah yang dimuliakan Allah.
Mungkin saudara-saudara terkejut karena tiba-tiba saya berkhobah di sini. Walaupun begitu, yakinlah saudara-saudaraku, majlis ini adalah majlis yang penuh berkah. Mengapa? Karena ini adalah majlis ilmu. Allah telah memerintahkan para malaikat untuk memayungi setiap jalan yang dilalu orang yang menuntut ilmu. Allah juga telah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Tapi perlu diingat bahwa al-ilmu bila amalin kas sajaru bila tsamarin, ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Oleh karena itu sekalilagi saya fatwakan pada diri saya dan pada saudara-saudara semua untuk mengamalkan ilmu-ilmu kita diantaranya ilmu membaca dan menulis. Mari kita membaca ON/OFF dan menulis untuk ON/OFF.
Saudara-saudara jamaah yang dikasihi Allah.
Pertama-tama saya akan berwasiat pada saudara-saudara, khususnya juga pada diri saya sendiri agar kita senatiasa meningkatkan taqwa kita. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengerjakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.
Saudara-saudara jamaah yang dikasihi Allah. Pada majlis yang mubarok ini, Allah telah berfirman lain syakartum lazidannakumi bila kau bersyukur maka pasti akan Aku tambah, walain kafartum inna adabi lasyadid, tapi bila kau mengingkari maka sesungguhnya siksaku sangat berat. Allah juga berkali-kali bertanya fa bi ayyi alai rabikuma tukadziban?, nikmat dari tuhanmu yang mana yang kau ingkari? Allah telah meminjami kita nyawa dan tubuh ini. Apakah kita akan mengingkarinya? Allah telah memberi kita rezeki setiap hari. Apakah kita akan mengingkarinya dengan berkata “ini adalah jerih payahku sendiri. Ini adalah hasil kerja kerasku, membanting tulang memeras keringat.” Apakah kita lupa bahwa kita tinggal di bumi? Bumi ini milik siapa? Bila kau merasa tidak puas dengan hukum-hukum Allah maka keluarlah dari kolong langit dan cari tuhan selain Allah. Ayo siapa yang bisa keluar dari kolong langit? Tidak ada yang bisa. Masya Allah. Allahu akbar. Mari kita syukuri nikmat yang telag dilimpahkan kepada kita. Allah telah meminjami kita mata. Mari kita gunakan dengan baik, misalnya kita gunakan untuk membaca ON/OFF. Kita sudah diberi rezeki oleh Allah. Mari kita gunakan dengan baik. Misalnya untuk membeli ON/OFF. Wahallawahu baia waharrama riba, Allah mengahalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Beli ON/OFF halal tapi togel haram. Saudara-saudara tentu bisa memilih mana yang baik.
Saudara-saudara jamaah yang dirahmati Allah. Mari kita tundukkan kepala, tenangkan hati untuk sesaat memohon kepada Allah.
Allahumagfir lil muslimin wal muslimat, Ya Allah ampunilah orang yang pasrah ini pria maupun wanita. Ya Allah, ampunilah saya karena saya telah menggunakan firman-firmanMu untuk membujuk saudara-saudara agar membeli dan membaca ON/OFF serta menulis untuk ON/OFF. Ya Allah ampunilah kami semua yang telah mempermainkan ayat-ayatMu. Ya Allah ampunilah segala dosa kami, segala dosa orang tua kami, segala dosa saudara-saudara kami, segala dosa teman-teman kami. Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pengampun, maha pengasih dan penyayang. Ya Allah bimbinglah tangan kami, tuntun kami ke jalan yang bena, ya Allah. Rabbana atina fidunya Khasana Wafil akhirati Khasanah Waqiana Adaba Nar.
Wassalamu alaiku wa rahmatullahi wabarakatuh.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita semua dari segumpal darah. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada rasul akhir zaman Muhammad shollawohu alaihi wassalam yang telah membebaskan kita semua dari jurang jahiliyah.
Saudara-saudara jamaah yang dimuliakan Allah.
Mungkin saudara-saudara terkejut karena tiba-tiba saya berkhobah di sini. Walaupun begitu, yakinlah saudara-saudaraku, majlis ini adalah majlis yang penuh berkah. Mengapa? Karena ini adalah majlis ilmu. Allah telah memerintahkan para malaikat untuk memayungi setiap jalan yang dilalu orang yang menuntut ilmu. Allah juga telah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Tapi perlu diingat bahwa al-ilmu bila amalin kas sajaru bila tsamarin, ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Oleh karena itu sekalilagi saya fatwakan pada diri saya dan pada saudara-saudara semua untuk mengamalkan ilmu-ilmu kita diantaranya ilmu membaca dan menulis. Mari kita membaca ON/OFF dan menulis untuk ON/OFF.
Saudara-saudara jamaah yang dikasihi Allah.
Pertama-tama saya akan berwasiat pada saudara-saudara, khususnya juga pada diri saya sendiri agar kita senatiasa meningkatkan taqwa kita. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengerjakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya.
Saudara-saudara jamaah yang dikasihi Allah. Pada majlis yang mubarok ini, Allah telah berfirman lain syakartum lazidannakumi bila kau bersyukur maka pasti akan Aku tambah, walain kafartum inna adabi lasyadid, tapi bila kau mengingkari maka sesungguhnya siksaku sangat berat. Allah juga berkali-kali bertanya fa bi ayyi alai rabikuma tukadziban?, nikmat dari tuhanmu yang mana yang kau ingkari? Allah telah meminjami kita nyawa dan tubuh ini. Apakah kita akan mengingkarinya? Allah telah memberi kita rezeki setiap hari. Apakah kita akan mengingkarinya dengan berkata “ini adalah jerih payahku sendiri. Ini adalah hasil kerja kerasku, membanting tulang memeras keringat.” Apakah kita lupa bahwa kita tinggal di bumi? Bumi ini milik siapa? Bila kau merasa tidak puas dengan hukum-hukum Allah maka keluarlah dari kolong langit dan cari tuhan selain Allah. Ayo siapa yang bisa keluar dari kolong langit? Tidak ada yang bisa. Masya Allah. Allahu akbar. Mari kita syukuri nikmat yang telag dilimpahkan kepada kita. Allah telah meminjami kita mata. Mari kita gunakan dengan baik, misalnya kita gunakan untuk membaca ON/OFF. Kita sudah diberi rezeki oleh Allah. Mari kita gunakan dengan baik. Misalnya untuk membeli ON/OFF. Wahallawahu baia waharrama riba, Allah mengahalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Beli ON/OFF halal tapi togel haram. Saudara-saudara tentu bisa memilih mana yang baik.
Saudara-saudara jamaah yang dirahmati Allah. Mari kita tundukkan kepala, tenangkan hati untuk sesaat memohon kepada Allah.
Allahumagfir lil muslimin wal muslimat, Ya Allah ampunilah orang yang pasrah ini pria maupun wanita. Ya Allah, ampunilah saya karena saya telah menggunakan firman-firmanMu untuk membujuk saudara-saudara agar membeli dan membaca ON/OFF serta menulis untuk ON/OFF. Ya Allah ampunilah kami semua yang telah mempermainkan ayat-ayatMu. Ya Allah ampunilah segala dosa kami, segala dosa orang tua kami, segala dosa saudara-saudara kami, segala dosa teman-teman kami. Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pengampun, maha pengasih dan penyayang. Ya Allah bimbinglah tangan kami, tuntun kami ke jalan yang bena, ya Allah. Rabbana atina fidunya Khasana Wafil akhirati Khasanah Waqiana Adaba Nar.
Wassalamu alaiku wa rahmatullahi wabarakatuh.
Selaksa Cerita di Mataku
Ayo. Tataplah mataku, sayang. Jangan grogi. Jangan keki. Tak perlu salah tingkah. Temukanlah selaksa cerita di sini. Cerita orang-orang biasa. Orang-orang seperti kamu.
Ayo. Pandanglah mataku yang bening ini. Mata dengan selaksa cerita. Ayo pandanglah sepuas hatimu. Tapi tidak perlu melotot begitu. Kalau memang mau berkedip tak perlu ditahan. Jangan khawatir. Aku akan tetap di sini, di depanmu. Menemanimu dengan berbagai cerita. Cerita apa saja. Tentang kumismu, mungkin. Atau tentang lipstikku. Atau tentang tetanggamu yang selalu sarapan dengan nasi pecel. Atau tentang got depan kosmu yang mampet. Atau tentang kebiasaanku minum kopi dan merokok. Ayo. Pandanglah mataku. Masuklah dan berenanglah di danau ini.
Kau tahu?
Walau aku baru lahir sekitar dua tahun yang lalu tapi sebenarnya aku sebaya denganmu. Mungkin kau tidak percaya dan segera berteriak “Ah ya nggak logis. Kalau kau lahir dua tahun yang lalu, umurmu ya dua tahun. Kau nggak mungkin bisa sebaya denganku. Aku lahir tiga puluh tahun yang lalu, sedang kau baru dua tahun.” Baiklah. Baiklah.. Emm, kalau begitu anggap saja aku gadis dua puluh sembilan tahun. Lupakan saja tahun kelahiranku. Yang pasti, sejak kelahiranku dua tahun yang lalu sampai sekarang aku sudah lahir dua puluh delapan kali. Ya lahir lagi setiap bulan. Itu kalau tidak ada halangan. Dan ini adalah kelahiranku yang ke dua puluh sembilan. Kau boleh saja menganggapku bayi yang masih amis. Tapi maaf. Aku terlanjur merasa sebaya denganmu. Ya anggap saja aku gadis dua sembilan tahun. Sudah tua dan sudah waktunya menikah. Tapi pacarku payah. Dia selalu bilang ‘belum siap’ setiap kali kuajak menikah. Tapi dia baik kok. Dialah yang sering mengantarkanku berpetualang ke mana-mana. Setiap akhir bulan dia selalu cemas menunggu kelahiranku. Dia selalu menunggu aku yang baru. Kau juga begitu kan?! Aku nggak tahu apakah kau selalu menemuiku setiap bulan. Kadang keadaan tidak selamany berpihak pada kita. Jadi, wajar saja bila kalau kita pada bulan tertentu terpaksa tidak bertemu.
Oh ya. Kuingatkan lagi kau jangan kaget bila beberapa bulan nanti, aku jauh lebih tua darimu. Ayo mumpung aku masih muda, mumpung kita masih sebaya, pandanglah mataku. Masuklah ke dalam.
Jangan khawatir aku akan selalu mengujungimu. Begitu aku lahir, maka aku pacarku akan segera mengantarku jalan-jalan ke Solo, Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, Padang, Makasar, Pontianak, Bali, Semarang, Banten, Palangkarya. Dan tentu saja tidak lupa ke tempatmu. Kaulah tujuanku. Dulu aku pernah juga diajak jalan-jalan ke Madiun, Purwokerto, Jember, dan secara nggak sengaja nyasar juga ke kota-kota yang lain. Tapi karena pacarku nggak sekaya yang kau sangka, dia tidak bias menuruti semua kemauanku. Aku ingin mengunjungi ingin jalan-jalan ke semua kota, ke semua desa sampai ke pelosok-pelosok. Ya keinginan yang gila memang. Tapi pacaraku tidak mengatakan aku gila. Dia hanya berbisik pelan di telinga kananku, “Uang kita sudah habis, saying.”
Kadang dia mengerutu kesal “Aku nggak tahu maksud teman-temanmu. Tiap bulan mereka menikmati matamu yang penuh cerita ini tapi mereka terus saja ngutang. Kalau begini terus-terusan bisa-bisa aku kita mati kelaparan, bisa-bisa kita tidak bisa membayar dukun beranak untuk kelahiranmu bulan depan. Kalaupun kau bisa lahir, mungkin kita terpaksa akan duduk di rumah atau sekedar jalan kaki keliling jogja. Kita tidak akan bisa menemui kekasih-kekasihmu di berbagi kota seperti ini.”
Kadang ada beberapa teman di daerah lain yang mengirim surat untukku. Mereka ingin aku juga mampir ke sana. Tapi seperti yang kukatakan tadi, pacarku tidak sekaya yang kau sangka. Jadi, aku harus menunda rencana perajalanan ke tempat yang baru itu. Aku tahu, teman-teman di sana sangat ingin memandangi mataku yang penuh cerita ini. Tapi ya bagaimana lagi. Memang begini keadaan kami. Bahkan saking miskinnya pacarku, kadang aku berkunjung ke tempatmu saja sangat terlambat. Maafkan aku. Kadang, memang, pacarku mesti cari hutangan untuk ongkos jalan-jalan kami. Kalaupun sudah ada uang, hampir tidak pernah cukup untuk beli tiket pesawat yang katanya sudah makin murah sekali itu. Ah lagian aku benci peswat. Suaranya berisik sekali.
Seharusnya, kalau kau sudah tidak melihat lagi bulan di langit malam, itu artinya aku harus segera keluar dari rahim ibu. Ya, seperti pernah kukatakan padamu, aku berjanji akan sudah duduk manis di depanmu ketika bulan sudah mulai muncul lagi di langit malam. Tapi maaf. Sekali lagi maaf. Sering kali aku lahir di saat bulan purnama. Sering kali ibu terlambat hamil. Yang paling menyebalkan adalah kalau aku terlalu lama di perut ibu. Kau tahukan betapa sempitnya ruangan di dalam rahim. Apalagi ibuku kurus sekali. Eh langsing dan semampai, maksudku. Iya sangat menyebalkan kalau sudah waktunya lahir tapi aku tidak bisa lahir karena harus menunggu dukun beranak yang sedang banyak orderan. Ibu harus antri sambil sesekali meringis dan mengelus perutnya yang kutendangi. Ibi tidak pernah marah. Ibu selalu menyanyi. Menyanyi apa saja untuk menghibur hatinya. “Sabar, nak. Sabar…” katanya selalu sambil mengelus perutnya.
Eh menurutmu aku cantik nggak? Cantik dan menarik kan? Apalagi mataku penuh dengan cerita. Kau pasti ketagihan bercinta denganku. Lagian tarifnya murah kan?! Hanya lima ribu rupiah. Dulu, bahkan lebih murah lagi. Pacarku pernah debat dengan ibu sampai larut malam karena ibu ingin menaikkan traif itu tapi pacarku nggak setuju. Jadi sampai sekarang, hanya dengan lima ripu rupiah kau bisa memandang mataku sepuas hatimu. Kau boleh memandang mataku selama kau mau. Kau juga boleh masuk ke dalam mataku dan berenang-renang di danau cerita. Kalau kau nggak bisa berenang kau bisa berendam saja. Di sana ada ikan yang bisa bercerita. Di sana ada bunga yang bisa berkisah. Di sana ada batu yang bisa mendongeng. Di sana kau bisa ngobrol dengan bayanganmu sendiri.
Siapa ibuku? Siapa ayahku?
Yang aku tahu, ibuku bercinta dengan banyak orang. Banyak manusia, pria maupun wanita. Yang pasti mereka bukan orang-orang yang terkenal. Mereka manusia biasa. Apakah ibuku pelacur? Ah boleh saja kalau ada yang bilang begitu. Yang pasti ibuku selalu meminta mencium mata teman tidurnya. Mencium mata lama sekali. Hingga tiba-tiba ibu sudah berada di dalam. Berenang-renang di danau mata. Berenang memutari danau, kadang bermain-main dengan ikan-ikan. Ibu menggambar ikan itu di rahimnya hingga tiba-tiba ikan di mataku semakin bertambah.
Sepertinya kau juga pantas jadi ayah baruku. Ayolah. Bercintalah dengan ibu.Ibuku cantik dan baik hati lho. Kalau kau mau kau pasti diberi oleh-oleh seperti tamu-tamu yang lain. Kalau dilihat harganya memang nggak mahal. Paling lima puluh ribuan. Dan sebagai bapak, pacarku akan mengantarkanku padamu. Kau boleh memandangi mataku yang penuh cerita ini sepuasmu. Kau tidak perlu membacar lima ribu. Bahkan kau boleh menjuaku. Itu kalau kau tega. Aku lebih suka kalau kau mengajakku jalan-jalan, main ke tempat teman-temanmu. Aku tahu, masih banyak orang yang belum aku kenal. Masih banyak orang yang belum mengenalku. Tabunganku belum cukup untuk membeli HP dengan nomor 0809XXX. Bahkan buat pasang iklanpun belum cukup. Selama ini aku hanya bisa merayu para penyiar radio untuk mengiklankan aku. Sebagai imbalannya kubuat tato wajahnya di punggunggku.
Kau tahu? Ibu dan pacarku mati-matian menghidupiku. Uang hasil ‘pelacuranku’ sangat tidak cukup untuk biaya hidup kami. Kadang kami datang ke para pengusaha tapi sepertinya mereka tidak begitu tertarik denganku. Mungkin aku harus tahu diri bahwa aku pergaulanku memang bukan orang-orang seperti mereka.
Mungkin kau agak sebel denganku karena tampilanku selalu berubah-ubah. Kau tak perlu sebel. Aku yakin sebenarnya kau tidak sebel. Kau hanya terkejut. Ya itulah yang hobiku, Aku suka sekali memberi kejutan. Aku ingin kau tidak bisa menebak bulan depan aku aku pakai apa. Aku ingin kau tidak bisa menebak ikan apa saja yang ada di mataku. Aku ingin, begitu melihatku, matamu terbelalak, mulutmu tiba-tiba terbuka sehingga udara menyeruak masuk memenuhi dadamu dan kaku memaki tanpa sadar. Aku ingin kau gemes dan gregetan melihat penampilanku. Aku ingin kau pingsan begitu melihat mataku.
Aku berjanji suatu saat nanti aku akan duduk manis di depanmu, menyapamu yang masih terbengong-bengong tidak percaya karena penampilanku jauh diluar dugaanmu, kau tidak akan menemukan ikan di dalam danau mataku. Yang ada hanya….ah sebaiknya tidak kukatakan sekarang. Bila saja kau tidak mengenali bau tubuhku kau tentu bertanya dengan nada heran, siapakah anda?
Ya aku suka itu. Aku akan memberi senyum yang paling manis pada setiap orang yang memaki karena mendapat surprise dariku. Ya, kau juga boleh memaki. Memaki apa saja. Makian sekasar amplas juga akan aku balas dengan senyuman yang sangat manis. Kau tahu? Di keluargaku, makian adalah hal yang sangat biasa. Bagi kami, makian merupakan ungkapan kasih sayang. Jadi, maaf bila di dalam danau mataku kau menemukan ikan yang memaki-maki.
Ayo. Tataplah mataku, sayang. Jangan grogi. Jangan keki. Tak perlu salah tingkah. Temukanlah selaksa cerita di sini. Cerita orang-orang biasa. Orang-orang seperti kamu.
Ayo. Pandanglah mataku yang bening ini. Mata dengan selaksa cerita. Ayo pandanglah sepuas hatimu. Tapi tidak perlu melotot begitu. Kalau memang mau berkedip tak perlu ditahan. Jangan khawatir. Aku akan tetap di sini, di depanmu. Menemanimu dengan berbagai cerita. Cerita apa saja. Tentang kumismu, mungkin. Atau tentang lipstikku. Atau tentang tetanggamu yang selalu sarapan dengan nasi pecel. Atau tentang got depan kosmu yang mampet. Atau tentang kebiasaanku minum kopi dan merokok. Ayo. Pandanglah mataku. Masuklah dan berenanglah di danau ini.
Kau tahu?
Walau aku baru lahir sekitar dua tahun yang lalu tapi sebenarnya aku sebaya denganmu. Mungkin kau tidak percaya dan segera berteriak “Ah ya nggak logis. Kalau kau lahir dua tahun yang lalu, umurmu ya dua tahun. Kau nggak mungkin bisa sebaya denganku. Aku lahir tiga puluh tahun yang lalu, sedang kau baru dua tahun.” Baiklah. Baiklah.. Emm, kalau begitu anggap saja aku gadis dua puluh sembilan tahun. Lupakan saja tahun kelahiranku. Yang pasti, sejak kelahiranku dua tahun yang lalu sampai sekarang aku sudah lahir dua puluh delapan kali. Ya lahir lagi setiap bulan. Itu kalau tidak ada halangan. Dan ini adalah kelahiranku yang ke dua puluh sembilan. Kau boleh saja menganggapku bayi yang masih amis. Tapi maaf. Aku terlanjur merasa sebaya denganmu. Ya anggap saja aku gadis dua sembilan tahun. Sudah tua dan sudah waktunya menikah. Tapi pacarku payah. Dia selalu bilang ‘belum siap’ setiap kali kuajak menikah. Tapi dia baik kok. Dialah yang sering mengantarkanku berpetualang ke mana-mana. Setiap akhir bulan dia selalu cemas menunggu kelahiranku. Dia selalu menunggu aku yang baru. Kau juga begitu kan?! Aku nggak tahu apakah kau selalu menemuiku setiap bulan. Kadang keadaan tidak selamany berpihak pada kita. Jadi, wajar saja bila kalau kita pada bulan tertentu terpaksa tidak bertemu.
Oh ya. Kuingatkan lagi kau jangan kaget bila beberapa bulan nanti, aku jauh lebih tua darimu. Ayo mumpung aku masih muda, mumpung kita masih sebaya, pandanglah mataku. Masuklah ke dalam.
Jangan khawatir aku akan selalu mengujungimu. Begitu aku lahir, maka aku pacarku akan segera mengantarku jalan-jalan ke Solo, Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, Padang, Makasar, Pontianak, Bali, Semarang, Banten, Palangkarya. Dan tentu saja tidak lupa ke tempatmu. Kaulah tujuanku. Dulu aku pernah juga diajak jalan-jalan ke Madiun, Purwokerto, Jember, dan secara nggak sengaja nyasar juga ke kota-kota yang lain. Tapi karena pacarku nggak sekaya yang kau sangka, dia tidak bias menuruti semua kemauanku. Aku ingin mengunjungi ingin jalan-jalan ke semua kota, ke semua desa sampai ke pelosok-pelosok. Ya keinginan yang gila memang. Tapi pacaraku tidak mengatakan aku gila. Dia hanya berbisik pelan di telinga kananku, “Uang kita sudah habis, saying.”
Kadang dia mengerutu kesal “Aku nggak tahu maksud teman-temanmu. Tiap bulan mereka menikmati matamu yang penuh cerita ini tapi mereka terus saja ngutang. Kalau begini terus-terusan bisa-bisa aku kita mati kelaparan, bisa-bisa kita tidak bisa membayar dukun beranak untuk kelahiranmu bulan depan. Kalaupun kau bisa lahir, mungkin kita terpaksa akan duduk di rumah atau sekedar jalan kaki keliling jogja. Kita tidak akan bisa menemui kekasih-kekasihmu di berbagi kota seperti ini.”
Kadang ada beberapa teman di daerah lain yang mengirim surat untukku. Mereka ingin aku juga mampir ke sana. Tapi seperti yang kukatakan tadi, pacarku tidak sekaya yang kau sangka. Jadi, aku harus menunda rencana perajalanan ke tempat yang baru itu. Aku tahu, teman-teman di sana sangat ingin memandangi mataku yang penuh cerita ini. Tapi ya bagaimana lagi. Memang begini keadaan kami. Bahkan saking miskinnya pacarku, kadang aku berkunjung ke tempatmu saja sangat terlambat. Maafkan aku. Kadang, memang, pacarku mesti cari hutangan untuk ongkos jalan-jalan kami. Kalaupun sudah ada uang, hampir tidak pernah cukup untuk beli tiket pesawat yang katanya sudah makin murah sekali itu. Ah lagian aku benci peswat. Suaranya berisik sekali.
Seharusnya, kalau kau sudah tidak melihat lagi bulan di langit malam, itu artinya aku harus segera keluar dari rahim ibu. Ya, seperti pernah kukatakan padamu, aku berjanji akan sudah duduk manis di depanmu ketika bulan sudah mulai muncul lagi di langit malam. Tapi maaf. Sekali lagi maaf. Sering kali aku lahir di saat bulan purnama. Sering kali ibu terlambat hamil. Yang paling menyebalkan adalah kalau aku terlalu lama di perut ibu. Kau tahukan betapa sempitnya ruangan di dalam rahim. Apalagi ibuku kurus sekali. Eh langsing dan semampai, maksudku. Iya sangat menyebalkan kalau sudah waktunya lahir tapi aku tidak bisa lahir karena harus menunggu dukun beranak yang sedang banyak orderan. Ibu harus antri sambil sesekali meringis dan mengelus perutnya yang kutendangi. Ibi tidak pernah marah. Ibu selalu menyanyi. Menyanyi apa saja untuk menghibur hatinya. “Sabar, nak. Sabar…” katanya selalu sambil mengelus perutnya.
Eh menurutmu aku cantik nggak? Cantik dan menarik kan? Apalagi mataku penuh dengan cerita. Kau pasti ketagihan bercinta denganku. Lagian tarifnya murah kan?! Hanya lima ribu rupiah. Dulu, bahkan lebih murah lagi. Pacarku pernah debat dengan ibu sampai larut malam karena ibu ingin menaikkan traif itu tapi pacarku nggak setuju. Jadi sampai sekarang, hanya dengan lima ripu rupiah kau bisa memandang mataku sepuas hatimu. Kau boleh memandang mataku selama kau mau. Kau juga boleh masuk ke dalam mataku dan berenang-renang di danau cerita. Kalau kau nggak bisa berenang kau bisa berendam saja. Di sana ada ikan yang bisa bercerita. Di sana ada bunga yang bisa berkisah. Di sana ada batu yang bisa mendongeng. Di sana kau bisa ngobrol dengan bayanganmu sendiri.
Siapa ibuku? Siapa ayahku?
Yang aku tahu, ibuku bercinta dengan banyak orang. Banyak manusia, pria maupun wanita. Yang pasti mereka bukan orang-orang yang terkenal. Mereka manusia biasa. Apakah ibuku pelacur? Ah boleh saja kalau ada yang bilang begitu. Yang pasti ibuku selalu meminta mencium mata teman tidurnya. Mencium mata lama sekali. Hingga tiba-tiba ibu sudah berada di dalam. Berenang-renang di danau mata. Berenang memutari danau, kadang bermain-main dengan ikan-ikan. Ibu menggambar ikan itu di rahimnya hingga tiba-tiba ikan di mataku semakin bertambah.
Sepertinya kau juga pantas jadi ayah baruku. Ayolah. Bercintalah dengan ibu.Ibuku cantik dan baik hati lho. Kalau kau mau kau pasti diberi oleh-oleh seperti tamu-tamu yang lain. Kalau dilihat harganya memang nggak mahal. Paling lima puluh ribuan. Dan sebagai bapak, pacarku akan mengantarkanku padamu. Kau boleh memandangi mataku yang penuh cerita ini sepuasmu. Kau tidak perlu membacar lima ribu. Bahkan kau boleh menjuaku. Itu kalau kau tega. Aku lebih suka kalau kau mengajakku jalan-jalan, main ke tempat teman-temanmu. Aku tahu, masih banyak orang yang belum aku kenal. Masih banyak orang yang belum mengenalku. Tabunganku belum cukup untuk membeli HP dengan nomor 0809XXX. Bahkan buat pasang iklanpun belum cukup. Selama ini aku hanya bisa merayu para penyiar radio untuk mengiklankan aku. Sebagai imbalannya kubuat tato wajahnya di punggunggku.
Kau tahu? Ibu dan pacarku mati-matian menghidupiku. Uang hasil ‘pelacuranku’ sangat tidak cukup untuk biaya hidup kami. Kadang kami datang ke para pengusaha tapi sepertinya mereka tidak begitu tertarik denganku. Mungkin aku harus tahu diri bahwa aku pergaulanku memang bukan orang-orang seperti mereka.
Mungkin kau agak sebel denganku karena tampilanku selalu berubah-ubah. Kau tak perlu sebel. Aku yakin sebenarnya kau tidak sebel. Kau hanya terkejut. Ya itulah yang hobiku, Aku suka sekali memberi kejutan. Aku ingin kau tidak bisa menebak bulan depan aku aku pakai apa. Aku ingin kau tidak bisa menebak ikan apa saja yang ada di mataku. Aku ingin, begitu melihatku, matamu terbelalak, mulutmu tiba-tiba terbuka sehingga udara menyeruak masuk memenuhi dadamu dan kaku memaki tanpa sadar. Aku ingin kau gemes dan gregetan melihat penampilanku. Aku ingin kau pingsan begitu melihat mataku.
Aku berjanji suatu saat nanti aku akan duduk manis di depanmu, menyapamu yang masih terbengong-bengong tidak percaya karena penampilanku jauh diluar dugaanmu, kau tidak akan menemukan ikan di dalam danau mataku. Yang ada hanya….ah sebaiknya tidak kukatakan sekarang. Bila saja kau tidak mengenali bau tubuhku kau tentu bertanya dengan nada heran, siapakah anda?
Ya aku suka itu. Aku akan memberi senyum yang paling manis pada setiap orang yang memaki karena mendapat surprise dariku. Ya, kau juga boleh memaki. Memaki apa saja. Makian sekasar amplas juga akan aku balas dengan senyuman yang sangat manis. Kau tahu? Di keluargaku, makian adalah hal yang sangat biasa. Bagi kami, makian merupakan ungkapan kasih sayang. Jadi, maaf bila di dalam danau mataku kau menemukan ikan yang memaki-maki.
Mengapa Langit Menangis Terus, Bu?
Cerpen oleh Faiq Aminuddin
Hujan belum reda juga padahal sudah sejak kemarin pagi. Ya, sudah sehari semalam hujan terus. Seakan tak ada habisnya air dilangit itu. Dulu, hujan adalah kabar gembira bagi kami tapi sekarang tidak. Sekarang setiap tetes air hujan membuatku merasa sepi dan sedih. Tak pernah lagi kudengar suara khas yang memanggilku, “Diajeng…”
Hari sudah siang tapi udara terasa sangat dingin. Malas sekali bangkit dari tempat tidur. Eh tapi si Ali sudah tidak ada di sampingku. Ah, ibu macam apa aku ini. Kanga bangun tidur kalah pagi dengan si bungsu yang masih kecil. Ali, dialah yang bisa mengurangi rasa sepi di rumah ini. Untung dulu aku tidak ikut KB. Aku tidak bisa membayangkan betapa sepinya rumah ini, bila dulu kami ikut KB dan merasa cukup dengan dua anak saja. Syukurlah aku masih punya Ali yang manis.
Lela, anak pertamaku sudah tidak di sini lagi. Dia tinggal di rumah suaminya. Aku tidak bisa memaksanya untuk sering-sering berkunjung kemari. Seorang istri kan harus nurut suaminya. Adapun adiknya, Yusuf, sudah lama tidak betah di rumah. Dialah yang pertama kali pergi meninggalkan rumah ini. Sekarang yang di rumah tinggal si Ali yang masih kecil. Ohya kemana anak itu. Kok bisa ya aku bangun sesiang ini. Jangan-jangan….
Ah, paling karena kecapekan. Semalam aku tidur sekitar jam dua-an, setelah menggoreng dan membungkusi kripik singkong. Pagi ini aku akan menitipkannya ke warung-warung sambil menagih hasil yang kemarin. Hasilnya lumayan. Cukup buat beli beras. Syukur kemarin ada juga tetangga yang pesan lumayan banyak. Katanya mau dikirim ke anaknya yang kuliah di kota. Ah… Kalau saja Kang Amin ada di rumah, pekerjaan ini akan terasa sangat ringan. Biasanya setelah menggoreng aku dipersilahkan oleh Kang Amin untuk tidur. Biarlah aku saja yang membungkusi, begitu kata Kang Amin. Sekarang Kang Amin tidak ada di rumah.
Mangkel dan jengkel rasanya bila ingat kejadian itu. Kalau Kang Amin tidak menghiburku, mungkin aku sudah gila karena stres. Kang Amin selalu bilang untuk apa menangis dan meratapi nasib. Yang perlu kita lakukan adalah menghadapinya bukan meratapi atau menangisi. Serahkan semua pada Allah. Kita hanya perlu berusaha. Mari kita jadikan musibah itu sebagai cambuk untuk kita bekerja. Aku tahu maksud Kang Amin. Sekarang kami harus bekerja keras.
Sebenarnya aku tidak rela Kang Amin kerja di luar negeri tapi mau bagaimana lagi. Keadaan memaksa begitu. Padahal dulu Kang Amin sering mewanti-wanti pada Lela dan Yusuf agar tidak jadi buruh. Kerja apa saja boleh tapi kalau bisa jangan jadi buruh. Lebih baik bertani dari pada jadi karyawan perusahaan mebel di kota. Lebih baik jadi nelayan atau jualan ikan dari pada jadi karyawan perusahaan tekstil.
Tapi sekarang malah Kang Amin sendiri yang jadi buruh. Ya Allah apa salah kami. Mengapa Kang Amin harus menjalani pekerjaan yang paling dibencinya sendiri. Mengapa Kang harus jadi TKI. Mengapa harus jauh-jauh ke Arab Saudi. Kang Amin tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu. Kang Amin hanya bilang, “Lha mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin ke sawah lagi. Aku malu… aku… Ah entahlah. Mungkin memang sebaiknya aku pergi dari desa ini. Ya, kumohon Diajeng tidak keberatan aku pergi ke luar negeri.” Itulah pertama kali aku melihat Kang Amin bersedih.
Aku hanya bisa berdoa semoga Kang Amin mendapat kerja yang enak. Dapat juragan yang baik. Sehingga bisa kerja dengan tenang dan dapat kirim uang setiap bulan buat mengangsur hutang-hutang kami. Dulu, aku tidak menyangka sama sekali kalau akhirnya kami punya hutang sampai jutaan begini.
Kang Amin adalah orang yang sangat tidak suka dengan hutang. Jangan pernah hutang serupiahpun, begitu kata Kang Amin dengan serius. Bahkan Kang Amin mengajariku menabung. Dulu, sebelum kami punya anak, Kang Amin sudah mengajak menabung. Selain buat jaga-jaga kebutuhan yang terduga, ternyata Kang Amin punya rencana buat masa depan anak-anaknya. Sedikit demi sedikit kami sisihkan hasil panen untuk ditabung. Ketika Ali lahir, kami sudah bisa membeli sawah lagi. Sawah itu akan kami berikan pada Lela. Itu kalau suaminya mau bertani. Kalau tidak, bisa saja kami menjual sawah itu dan uangnya bisa digunakan modal untuk dagang. Dan kami juga sudah mulai menabung lagi untuk membeli sawah sebaga jatah Yusuf.
Tapi sekarang kami tidak punya sawah lagi. Semua kami jual. Sawah yang kami yang beli dengan tabungan dan kami berikan pada Lela sudah kami jual buat melunasi hutang. Ya, baru kali ini kami punya hutang. Sekali punya hutang, lha kok ya sebegitu banyak. Aduh tobat… tobat. Uhhh Mangkel sekali aku kalau ingat kejadian itu.
Malam itu tiba-tiba ada beberapa tetangga datang bertamu. Seperti biasa, Kang Amin memintaku menyiapkan makan malam tamu-tamu itu. Kami makan malam bersama. Ya Aku dan Ali makan bersama Kang Ali dan tamu-tamu itu. Tapi tidak seperti biasanya kalau ada tamu. Malam itu Kang Ali lebih banyak diam. Dan sesudah makan, kudengar Kang Ali berbicara dengan suara agak keras. Itu tandanya Kang Ali marah. Aku jadi takut sekali. Sangat jarang Kang Ali Marah. Kang Ali itu orangnya sangat sabar. Kalau sampai Kang Ali marah itu berarti ….
Dari beberapa pembicaraan yang aku dengar aku juga kaget. Aku tidak menyangka kalau para tetangga itu datang untuk meminta Kang Ali mencalonkan diri jadi Modin. Ya sudah pasti Kang Amin menolak. Aku tahu Kang Amin tidak ingin jadi pejabat walau setingkat RT pun. Kang Amin hanya ingin jadi petani. Lebih enak jadi wong biasa. Aku itu tidak bisa kalau ngurusi orang banyak. Lha wong ngurusi keluarga sendiri saja kangelan, begitu kata Kang Amin. “Menurut Diajeng bagaimana?” Aku tidak bisa menjawab. Aku diam saja tapi ternyata Kang Amin menunggu pendapatku. Maka kubilang, kalau Kang Amin tidak mau jadi Modin, ya tidak usah nyalon.
Tapi malam berikutnya tamu-tamu itu datang lagi. Kang Amin tetap menolak tapi mereka terus menerus merayu agar Kang Amin mau. Bahkan mereka bersedia mengurus semua surat-surat yang diperlukan. Menurut mereka, kami tidak perlu mengeluarkan biaya pendaftaran. “Pak Amin tidak perlu bagi-bagi uang sabet. Tidak usah kampanye. Tidak perlu membagi-bagi uang. Lha wong mereka sendiri kok yang ingin Pak Amin jadi Modin. Tidak beri uangpun mereka pasti mendukung Pak Amin. Kalaupun ada yang tidak mendukung paling hanya sedikit. Ya tidak lebih dari sepertiga. Pokoknya yang penting Pak Amin mau.” Aku ingat benar kalimat itu. Ya sampai sekarang aku masih ingat. Tapi mereka, tamu-tamu itu cepat sekali melupakannya.
Aku masih bisa menerima kalau hanya harus belanja tiap hari karena setiap hari selalu ada tamu yang datang. Semakin dekat dengan hari pemilihan semakin banyak tamu yang datang. Itu sudah jadi, kebiasaan. Dan kami tahu, itu berarti kami harus menyiapkan kopi, teh, berbagai panganan, dan tentu saja rokok. Dari hari ke hari pengeluaran semakin tidak terkontrol. Yang belanja bukan aku karena mereka, para tamu-tamu itu telah membentuk panitia. Tiap hari mereka menyodorkan laopran bahwa semalam telah membeli sekian bungkus teh, kopi, kacang, pisang goreng, sekian kilo gula pasir, dan sekian bungkus rokok. Mau tidak mau harus mengganti uang yang mereka keluarkan.
Begitu setiap hari dan semakin tidak terkendali. Aku seperti terseret arus. Tak terasa uang tabungan kami habis. Mereka, para panitia itu tidak mau tahu. Mereka terus menodong kami Ya menodong. Apa lagi kalau bukan menodong namanya. Lha wong mereka memaksa…Kalau aku mengeluh mereka bilang pelit. “Wah baru jadi calon Modi saja sudah sombong lupa sama tetangga apalagi nanti kalau jadi…” Uhhh mangkel dan jengkel aku bila ingat kejadian itu.
Aku tidak menyagka kalau jumlahnya sampai enam juta lebih. Aku tidak yakin uang itu hanya untuk makan minum dan rokok. Panitia bilang mereka harus memberi amplo pada polisi juga. Ya kulihat hampir setaip hari ada beberapa polisi yang datang bertamu, makan, ngobrol sebentar kemudian pulang. Aku tidak menyangka kalau semua polisi itu datang untuk minta amplop.
Ibu-ibu tetanggaku menghiburku bahwa semua yang kami keluarkan itu tidak akan sia-sia. “Pak Amin pasti jadi,” kata mereka dengan sangat yakin. “Kalau dihitung seperti orang dagang memang rugi. Tapi ini kan bukan dagang. Nama dan kehormatan memang mahal,” kata yang lain.
Waktu pemilihan aku terkejut setengah mati. Ternyata Kang Amin tidak mendapat suara yang banyak. Mungkin hanya sepertiga dari jumlah pemilih. Dan mereka, para panitia itu malah menggerurutu dan menyalahkan kami. “Salah sendiri tidak mau keluar modal.” Ya kami menolak ketika panitia minta kami lima juta lagi untuk dibagi-bagi pada penduduk. Aku tidak mau karena aku masih ingat kata-kata mereka. Bukankah dulu mereka bilang bahwa kami tidak perlu membagi-bagi uang.
“Mengapa menangis terus, Bu?” Suara Ali membuyarkan lamunanku. Menangis?! Kuraba pipiku, tidak ada air mata. Ya Aku mau menangis lagi walaupun sedih dan mangkel setengah mati. Apakah Ali tahu kalau aku sedang teringat bapaknya dan sedang sedih bercampur mangkel.
“Menangis?! Siapa yang menangis, Nak?”
“Mengapa langit menangis terus, Bu?”
“O langit…Emmm… Mungkin karena… Ah ibu tidak tahu, Nak. Tapi kira-kira karena apa ya kok dia menangis terus?”
“Karena dia lapar.”
Kuanggukkan kepala membenarkan jawabannya lalu kedekap dia dan kubawa kekamar mandi. “Sekarang mandi dulu ya. Setelah itu nanti kita buat sarapan.”
Cerpen oleh Faiq Aminuddin
Hujan belum reda juga padahal sudah sejak kemarin pagi. Ya, sudah sehari semalam hujan terus. Seakan tak ada habisnya air dilangit itu. Dulu, hujan adalah kabar gembira bagi kami tapi sekarang tidak. Sekarang setiap tetes air hujan membuatku merasa sepi dan sedih. Tak pernah lagi kudengar suara khas yang memanggilku, “Diajeng…”
Hari sudah siang tapi udara terasa sangat dingin. Malas sekali bangkit dari tempat tidur. Eh tapi si Ali sudah tidak ada di sampingku. Ah, ibu macam apa aku ini. Kanga bangun tidur kalah pagi dengan si bungsu yang masih kecil. Ali, dialah yang bisa mengurangi rasa sepi di rumah ini. Untung dulu aku tidak ikut KB. Aku tidak bisa membayangkan betapa sepinya rumah ini, bila dulu kami ikut KB dan merasa cukup dengan dua anak saja. Syukurlah aku masih punya Ali yang manis.
Lela, anak pertamaku sudah tidak di sini lagi. Dia tinggal di rumah suaminya. Aku tidak bisa memaksanya untuk sering-sering berkunjung kemari. Seorang istri kan harus nurut suaminya. Adapun adiknya, Yusuf, sudah lama tidak betah di rumah. Dialah yang pertama kali pergi meninggalkan rumah ini. Sekarang yang di rumah tinggal si Ali yang masih kecil. Ohya kemana anak itu. Kok bisa ya aku bangun sesiang ini. Jangan-jangan….
Ah, paling karena kecapekan. Semalam aku tidur sekitar jam dua-an, setelah menggoreng dan membungkusi kripik singkong. Pagi ini aku akan menitipkannya ke warung-warung sambil menagih hasil yang kemarin. Hasilnya lumayan. Cukup buat beli beras. Syukur kemarin ada juga tetangga yang pesan lumayan banyak. Katanya mau dikirim ke anaknya yang kuliah di kota. Ah… Kalau saja Kang Amin ada di rumah, pekerjaan ini akan terasa sangat ringan. Biasanya setelah menggoreng aku dipersilahkan oleh Kang Amin untuk tidur. Biarlah aku saja yang membungkusi, begitu kata Kang Amin. Sekarang Kang Amin tidak ada di rumah.
Mangkel dan jengkel rasanya bila ingat kejadian itu. Kalau Kang Amin tidak menghiburku, mungkin aku sudah gila karena stres. Kang Amin selalu bilang untuk apa menangis dan meratapi nasib. Yang perlu kita lakukan adalah menghadapinya bukan meratapi atau menangisi. Serahkan semua pada Allah. Kita hanya perlu berusaha. Mari kita jadikan musibah itu sebagai cambuk untuk kita bekerja. Aku tahu maksud Kang Amin. Sekarang kami harus bekerja keras.
Sebenarnya aku tidak rela Kang Amin kerja di luar negeri tapi mau bagaimana lagi. Keadaan memaksa begitu. Padahal dulu Kang Amin sering mewanti-wanti pada Lela dan Yusuf agar tidak jadi buruh. Kerja apa saja boleh tapi kalau bisa jangan jadi buruh. Lebih baik bertani dari pada jadi karyawan perusahaan mebel di kota. Lebih baik jadi nelayan atau jualan ikan dari pada jadi karyawan perusahaan tekstil.
Tapi sekarang malah Kang Amin sendiri yang jadi buruh. Ya Allah apa salah kami. Mengapa Kang Amin harus menjalani pekerjaan yang paling dibencinya sendiri. Mengapa Kang harus jadi TKI. Mengapa harus jauh-jauh ke Arab Saudi. Kang Amin tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu. Kang Amin hanya bilang, “Lha mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin ke sawah lagi. Aku malu… aku… Ah entahlah. Mungkin memang sebaiknya aku pergi dari desa ini. Ya, kumohon Diajeng tidak keberatan aku pergi ke luar negeri.” Itulah pertama kali aku melihat Kang Amin bersedih.
Aku hanya bisa berdoa semoga Kang Amin mendapat kerja yang enak. Dapat juragan yang baik. Sehingga bisa kerja dengan tenang dan dapat kirim uang setiap bulan buat mengangsur hutang-hutang kami. Dulu, aku tidak menyangka sama sekali kalau akhirnya kami punya hutang sampai jutaan begini.
Kang Amin adalah orang yang sangat tidak suka dengan hutang. Jangan pernah hutang serupiahpun, begitu kata Kang Amin dengan serius. Bahkan Kang Amin mengajariku menabung. Dulu, sebelum kami punya anak, Kang Amin sudah mengajak menabung. Selain buat jaga-jaga kebutuhan yang terduga, ternyata Kang Amin punya rencana buat masa depan anak-anaknya. Sedikit demi sedikit kami sisihkan hasil panen untuk ditabung. Ketika Ali lahir, kami sudah bisa membeli sawah lagi. Sawah itu akan kami berikan pada Lela. Itu kalau suaminya mau bertani. Kalau tidak, bisa saja kami menjual sawah itu dan uangnya bisa digunakan modal untuk dagang. Dan kami juga sudah mulai menabung lagi untuk membeli sawah sebaga jatah Yusuf.
Tapi sekarang kami tidak punya sawah lagi. Semua kami jual. Sawah yang kami yang beli dengan tabungan dan kami berikan pada Lela sudah kami jual buat melunasi hutang. Ya, baru kali ini kami punya hutang. Sekali punya hutang, lha kok ya sebegitu banyak. Aduh tobat… tobat. Uhhh Mangkel sekali aku kalau ingat kejadian itu.
Malam itu tiba-tiba ada beberapa tetangga datang bertamu. Seperti biasa, Kang Amin memintaku menyiapkan makan malam tamu-tamu itu. Kami makan malam bersama. Ya Aku dan Ali makan bersama Kang Ali dan tamu-tamu itu. Tapi tidak seperti biasanya kalau ada tamu. Malam itu Kang Ali lebih banyak diam. Dan sesudah makan, kudengar Kang Ali berbicara dengan suara agak keras. Itu tandanya Kang Ali marah. Aku jadi takut sekali. Sangat jarang Kang Ali Marah. Kang Ali itu orangnya sangat sabar. Kalau sampai Kang Ali marah itu berarti ….
Dari beberapa pembicaraan yang aku dengar aku juga kaget. Aku tidak menyangka kalau para tetangga itu datang untuk meminta Kang Ali mencalonkan diri jadi Modin. Ya sudah pasti Kang Amin menolak. Aku tahu Kang Amin tidak ingin jadi pejabat walau setingkat RT pun. Kang Amin hanya ingin jadi petani. Lebih enak jadi wong biasa. Aku itu tidak bisa kalau ngurusi orang banyak. Lha wong ngurusi keluarga sendiri saja kangelan, begitu kata Kang Amin. “Menurut Diajeng bagaimana?” Aku tidak bisa menjawab. Aku diam saja tapi ternyata Kang Amin menunggu pendapatku. Maka kubilang, kalau Kang Amin tidak mau jadi Modin, ya tidak usah nyalon.
Tapi malam berikutnya tamu-tamu itu datang lagi. Kang Amin tetap menolak tapi mereka terus menerus merayu agar Kang Amin mau. Bahkan mereka bersedia mengurus semua surat-surat yang diperlukan. Menurut mereka, kami tidak perlu mengeluarkan biaya pendaftaran. “Pak Amin tidak perlu bagi-bagi uang sabet. Tidak usah kampanye. Tidak perlu membagi-bagi uang. Lha wong mereka sendiri kok yang ingin Pak Amin jadi Modin. Tidak beri uangpun mereka pasti mendukung Pak Amin. Kalaupun ada yang tidak mendukung paling hanya sedikit. Ya tidak lebih dari sepertiga. Pokoknya yang penting Pak Amin mau.” Aku ingat benar kalimat itu. Ya sampai sekarang aku masih ingat. Tapi mereka, tamu-tamu itu cepat sekali melupakannya.
Aku masih bisa menerima kalau hanya harus belanja tiap hari karena setiap hari selalu ada tamu yang datang. Semakin dekat dengan hari pemilihan semakin banyak tamu yang datang. Itu sudah jadi, kebiasaan. Dan kami tahu, itu berarti kami harus menyiapkan kopi, teh, berbagai panganan, dan tentu saja rokok. Dari hari ke hari pengeluaran semakin tidak terkontrol. Yang belanja bukan aku karena mereka, para tamu-tamu itu telah membentuk panitia. Tiap hari mereka menyodorkan laopran bahwa semalam telah membeli sekian bungkus teh, kopi, kacang, pisang goreng, sekian kilo gula pasir, dan sekian bungkus rokok. Mau tidak mau harus mengganti uang yang mereka keluarkan.
Begitu setiap hari dan semakin tidak terkendali. Aku seperti terseret arus. Tak terasa uang tabungan kami habis. Mereka, para panitia itu tidak mau tahu. Mereka terus menodong kami Ya menodong. Apa lagi kalau bukan menodong namanya. Lha wong mereka memaksa…Kalau aku mengeluh mereka bilang pelit. “Wah baru jadi calon Modi saja sudah sombong lupa sama tetangga apalagi nanti kalau jadi…” Uhhh mangkel dan jengkel aku bila ingat kejadian itu.
Aku tidak menyagka kalau jumlahnya sampai enam juta lebih. Aku tidak yakin uang itu hanya untuk makan minum dan rokok. Panitia bilang mereka harus memberi amplo pada polisi juga. Ya kulihat hampir setaip hari ada beberapa polisi yang datang bertamu, makan, ngobrol sebentar kemudian pulang. Aku tidak menyangka kalau semua polisi itu datang untuk minta amplop.
Ibu-ibu tetanggaku menghiburku bahwa semua yang kami keluarkan itu tidak akan sia-sia. “Pak Amin pasti jadi,” kata mereka dengan sangat yakin. “Kalau dihitung seperti orang dagang memang rugi. Tapi ini kan bukan dagang. Nama dan kehormatan memang mahal,” kata yang lain.
Waktu pemilihan aku terkejut setengah mati. Ternyata Kang Amin tidak mendapat suara yang banyak. Mungkin hanya sepertiga dari jumlah pemilih. Dan mereka, para panitia itu malah menggerurutu dan menyalahkan kami. “Salah sendiri tidak mau keluar modal.” Ya kami menolak ketika panitia minta kami lima juta lagi untuk dibagi-bagi pada penduduk. Aku tidak mau karena aku masih ingat kata-kata mereka. Bukankah dulu mereka bilang bahwa kami tidak perlu membagi-bagi uang.
“Mengapa menangis terus, Bu?” Suara Ali membuyarkan lamunanku. Menangis?! Kuraba pipiku, tidak ada air mata. Ya Aku mau menangis lagi walaupun sedih dan mangkel setengah mati. Apakah Ali tahu kalau aku sedang teringat bapaknya dan sedang sedih bercampur mangkel.
“Menangis?! Siapa yang menangis, Nak?”
“Mengapa langit menangis terus, Bu?”
“O langit…Emmm… Mungkin karena… Ah ibu tidak tahu, Nak. Tapi kira-kira karena apa ya kok dia menangis terus?”
“Karena dia lapar.”
Kuanggukkan kepala membenarkan jawabannya lalu kedekap dia dan kubawa kekamar mandi. “Sekarang mandi dulu ya. Setelah itu nanti kita buat sarapan.”
Saturday, November 06, 2004
Penggaris dari Korea
Cerita anak oleh Faiq Aminuddin
Hari ini, wajah Paijo tampak sangat cerah. Sepertinya dia sedang gembira. Paijo melangkahkan kaki sambil bernyanyi-nyanyi. Dia berlari-lari kecil menuju sekolah. Teman-temannya bertanya-tanya mengapa Paijo senyam-senyum sendiri ketika masuk kelas.
Paijo membuka tasnya. Tasnya terjatuh karena dia terlalu buru-buru. Dia mengeluarkan penggaris barunya dan ditunjukkan pada teman-teman.
“Penggaris ini mahal harganya. Di sini tidak ada yang jual. Penggaris ini oleh-oleh ibuku dari Korea.”
Paijo mengacung-acungkan penggaris.
“Lihat. Penggaris ini ada gambarnya tapi bukan sembarang gambar. Gambar ini bisa bergerak-gerak.”
Teman-teman datang mendekat, mengelilingi Paijo. Mereka ingin melihat gambar yang bisa bergerak-gerak itu.
Paijo menggerak-gerakkan penggarisnya. Gambar mobil di penggaris itu seperti berjalan. Teman-temannya heran. Mereka ingin meminjam. Mereka ingin memegang dan melihatnya lebih dekat. Tapi Paijo tidak mau meminjamkan penggarisnya. Dia takut penggarisnya rusak atau hilang.
“Penggaris ini tidak boleh dipinjam,” teriak Paijo.
“Ah pelit,” kata salah satu temannya sambil merebut penggaris itu. Teman yang lain merebut juga. Mereka berdesak-desakkan, rebutan penggaris.
KLAK !
Penggaris itu patah.
Paijo menangis.[]
Cerita anak oleh Faiq Aminuddin
Hari ini, wajah Paijo tampak sangat cerah. Sepertinya dia sedang gembira. Paijo melangkahkan kaki sambil bernyanyi-nyanyi. Dia berlari-lari kecil menuju sekolah. Teman-temannya bertanya-tanya mengapa Paijo senyam-senyum sendiri ketika masuk kelas.
Paijo membuka tasnya. Tasnya terjatuh karena dia terlalu buru-buru. Dia mengeluarkan penggaris barunya dan ditunjukkan pada teman-teman.
“Penggaris ini mahal harganya. Di sini tidak ada yang jual. Penggaris ini oleh-oleh ibuku dari Korea.”
Paijo mengacung-acungkan penggaris.
“Lihat. Penggaris ini ada gambarnya tapi bukan sembarang gambar. Gambar ini bisa bergerak-gerak.”
Teman-teman datang mendekat, mengelilingi Paijo. Mereka ingin melihat gambar yang bisa bergerak-gerak itu.
Paijo menggerak-gerakkan penggarisnya. Gambar mobil di penggaris itu seperti berjalan. Teman-temannya heran. Mereka ingin meminjam. Mereka ingin memegang dan melihatnya lebih dekat. Tapi Paijo tidak mau meminjamkan penggarisnya. Dia takut penggarisnya rusak atau hilang.
“Penggaris ini tidak boleh dipinjam,” teriak Paijo.
“Ah pelit,” kata salah satu temannya sambil merebut penggaris itu. Teman yang lain merebut juga. Mereka berdesak-desakkan, rebutan penggaris.
KLAK !
Penggaris itu patah.
Paijo menangis.[]
Wednesday, August 25, 2004
Mengembalikan Tanduk Ayam Jago
Oleh Faiq Aminuddin
Hari itu anak kambing senang sekali. Dia gembira karena di kepalanya mulai tumbuh sepasang tanduk. Akan tetapi, kegembiraan itu berubah menjadi kesedihan menurut ibunya, tanduk itu bukan miliknya.
“Tanduk itu hanya pinjaman,” kata ibunya.
“Pinjaman?! Bukankah tanduk ini tumbuh dari dalam kepalaku?”
“Pada jaman dahulu, desa kita diserang oleh sekelompok singa yang jahat. Tidak ada kambing yang berani melawan singa. Singa itu semakin semena-mena. Saat itu kita tidak punya senjata. Kita tidak punya tanduk.”
“Bapak juga tidak punya tanduk?”
“Waktu itu Ibu dan bapakmu belum lahir. Ibu hanya mendengar ceritanya. Menurut cerita, saat itu tidak ada kambing yang punya tanduk. Akhirnya ada yang usul untuk meminjam tanduk pada ayam jago. Dengan senjata tanduk itu kita berhasil melawan dan mengusir singa yang jahat itu. Hingga sekarang desa kita aman sentosa. Kita harus berterimakasih.”
“Mengapa tanduknya tidak dikembalikan pada ayam jago? Perangnya kan sudah selesai, Bu?”
“Menurut cerita, kita masih khawatir kalau sewaktu-waktu singa jahat menyerang lagi. Makanya, kita tidak mengembalikan tanduk pinjaman itu. Setiap pagi kau tentu mendengar ayam jago berkokok; Kukuruyuuuk… Itu artinya endi sunguku (mana tandukuku). Kita hanya bisa menjawab; Mbek. Itu artinya mben (besok ya..).”
Anak kambing itu sedih sekali. Dia senang sekali punya tanduk di kepala. Tapi ternyata tanduk itu bukan miliknya. Menurutnya barang pinjaman harus dikembalikan. Dia bertekad akan mengembalikan tanduk yang ada di kepalanya kepada ayam jago.
Suatu pagi anak kambing itu berjalan menuju desa Jago. Ketika sampai di pintu gerbang, dia disambut oleh kepala kampung Jago. Kepala kampung itu berkokok keras sekali.
“Kukuruyuk…”
Anak kambing itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Dia segera berjalan menghampiri ayam jago itu. “Aku datang ke sini memang mau mengembalikan tanduk ini.”
Ayom jago senang sekali. Dia segera membantu melepas tanduk dari kepala anak kambing lalu memasang di kepalanya.
“Aduh… berat sekali. Tolong lepas saja. Aku takut leherku patah. Kalau begini, lebih baik tanduk ini kuberikan kepadamu saja. Lagian aku sudah punya banyak senjata. Mulut dan kuku kakiku tajam. Selain itu aku juga punya senjata yang hebat.” Ayam jago mengangkat kakinya. Dia meperlihatkan jalunya yang tajam itu kepada anak kambing.
“Jadi, tanduk ini sekarang jadi milikku?”
Ayam jago mengangguk. “Ya. Dan tolong kabarkan kepala para kambing di desamu bahwa tanduk yang ada di kepala mereka mulai sekarang sudah menjadi milik mereka.”
“Terimakasih.’
Blimbingsari, 22 Agustus 2004
Oleh Faiq Aminuddin
Hari itu anak kambing senang sekali. Dia gembira karena di kepalanya mulai tumbuh sepasang tanduk. Akan tetapi, kegembiraan itu berubah menjadi kesedihan menurut ibunya, tanduk itu bukan miliknya.
“Tanduk itu hanya pinjaman,” kata ibunya.
“Pinjaman?! Bukankah tanduk ini tumbuh dari dalam kepalaku?”
“Pada jaman dahulu, desa kita diserang oleh sekelompok singa yang jahat. Tidak ada kambing yang berani melawan singa. Singa itu semakin semena-mena. Saat itu kita tidak punya senjata. Kita tidak punya tanduk.”
“Bapak juga tidak punya tanduk?”
“Waktu itu Ibu dan bapakmu belum lahir. Ibu hanya mendengar ceritanya. Menurut cerita, saat itu tidak ada kambing yang punya tanduk. Akhirnya ada yang usul untuk meminjam tanduk pada ayam jago. Dengan senjata tanduk itu kita berhasil melawan dan mengusir singa yang jahat itu. Hingga sekarang desa kita aman sentosa. Kita harus berterimakasih.”
“Mengapa tanduknya tidak dikembalikan pada ayam jago? Perangnya kan sudah selesai, Bu?”
“Menurut cerita, kita masih khawatir kalau sewaktu-waktu singa jahat menyerang lagi. Makanya, kita tidak mengembalikan tanduk pinjaman itu. Setiap pagi kau tentu mendengar ayam jago berkokok; Kukuruyuuuk… Itu artinya endi sunguku (mana tandukuku). Kita hanya bisa menjawab; Mbek. Itu artinya mben (besok ya..).”
Anak kambing itu sedih sekali. Dia senang sekali punya tanduk di kepala. Tapi ternyata tanduk itu bukan miliknya. Menurutnya barang pinjaman harus dikembalikan. Dia bertekad akan mengembalikan tanduk yang ada di kepalanya kepada ayam jago.
Suatu pagi anak kambing itu berjalan menuju desa Jago. Ketika sampai di pintu gerbang, dia disambut oleh kepala kampung Jago. Kepala kampung itu berkokok keras sekali.
“Kukuruyuk…”
Anak kambing itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah. Dia segera berjalan menghampiri ayam jago itu. “Aku datang ke sini memang mau mengembalikan tanduk ini.”
Ayom jago senang sekali. Dia segera membantu melepas tanduk dari kepala anak kambing lalu memasang di kepalanya.
“Aduh… berat sekali. Tolong lepas saja. Aku takut leherku patah. Kalau begini, lebih baik tanduk ini kuberikan kepadamu saja. Lagian aku sudah punya banyak senjata. Mulut dan kuku kakiku tajam. Selain itu aku juga punya senjata yang hebat.” Ayam jago mengangkat kakinya. Dia meperlihatkan jalunya yang tajam itu kepada anak kambing.
“Jadi, tanduk ini sekarang jadi milikku?”
Ayam jago mengangguk. “Ya. Dan tolong kabarkan kepala para kambing di desamu bahwa tanduk yang ada di kepala mereka mulai sekarang sudah menjadi milik mereka.”
“Terimakasih.’
Blimbingsari, 22 Agustus 2004
Kuning yang menjijikkan
Katanya cerita ini benar-benar terjadi. Aku hanya mendengarnya dari teman yang baru kukenal tapi aku percaya padanya. Dia belum pernah berbohong padaku. Makanya aku percaya bahwa cerita ini benar-benar terjadi.
Cerita ini kudengar saat kami makan siang di warung depan kantor. Kami duduk berhadapan di meja kursi yang diletakkan di bawah pohon beringin yang rindang.
Sehabis makan masih terasa belum lengkap kalau kami belum merokok. Entah berapa batang yang telah kami bakar selama ini. Aku tidak tahu dan tidak pernah mencoba menghitungnya. Tapi aku tahu, dia juga tahu bahwa merokok mengganggu kesehatan dan bikin hidup boros. Tapi kami tetap merokok.
Masih terasa istirahat kami bila habis makan langsung berdiri dan kembali masuk ke kantor. Maka sambil merokok kami pun ngrumpi walau aku laki-laki dan dia juga laki-laki. Jangan pernah percaya kalau temanmu bilang bahwa ngrumpi adalah hobi para wanita.
Aku tidak begitu ingat mengapa siang itu dia bercerita tentang warna kuning. Aku tidak tahu apakah dia juga membenci warna kuning itu. Kejadian itu katanya terjadi di balai desa pada suatu pagi.
Pagi-pagi sekali pak lurah sudah berangkat ke Balai desa. Speaker yang berada di atas atap balai desa itu memperkeras suara pak lurah yang sedang memberikan pengumuman. Pengumuman. Siang ini adalah hari pembuatan KTP yang baru. Sederek-sederek semua harus datang ke balai desa untuk dipoto dan tandatangan. Yang tidak datang berarti tidak punya KTP yang sah. Itu berarti tidak mendukung pembangunan.
Tidak lama kemudian orang-orang sudah memenuhi halaman balai desa, tapi petugas yang memotret belum datang. Orang-orang menunggu dan menunggu. Tidak banyak yang berani untuk sekedar menggerutu. Kalaupun ada yang menggerutu atau mengeluh pasti tidak ada yang menanggapi. Semua memilih diam. Diam itu berarti lebih aman. Tak banyak yang berani menggunjing pak lurah di tempat umum seperti ini. Karena kalau saja pak lurah atau salah satu pamong desa mendengar itu berarti segala urusannya akan menjadi ruwet. Bisa-bisa ada polisi datang ke rumah dan mengajaknya pergi ke kota dan tak pernah kembali sampai setidaknya satu bulan.
Orang-orang segera berdiri ketika ada yang mendnegar bahwa tukang poto sudah datang. Tukang poto itu minta diambilkan sebuah bangku panjang. Selembar kain hijau dibentangkan dan ditempel di tembok. Bangku di letakkan di depan bentangan kain itu.
Pamong desa yang duduk mengahadi meja dengan kertas-kertas memanggil nama demi nama untuk diminta masuk ke balai desa. Delapan orang duduk di bangku dan delapan orang lagi berdiri di belakangnya. Dua orang pamong desa membantu membentangkan kain hijau di belakang punggung dan kepala delapan orang yang duduk di bangku.
Tukang poto masih sibuk menyiapkan alat-alatnya.
Tiba-tiba ada bocah kecil yang nyetetuk. Hidup petiga.
Celetukan itu disambut dengan senyuman, maksudku tawa yang ditahan. Tapi muka pak luarah tiba-tiba jadi jelek sekali. Ketika tukang poto sudah memberi aba-aba dan siap mengambil gambar, pak lurah menghentikannya. Katanya kain itu harus diganti. Dia memerintan pamong untuk mencari kain kuning.
Orang-orang harus menunggu. Tidak banyak yang berani menggerutu.
Dengan keringat yang bercucuran pamong itu datang dengan membawa dua gulung kain kuning. Kain hijau di copot dan diganti kain kuning.
Sebelum kembali memeberi aba-ba dan mengambil gambar, tukang poto itu bilang pada pak lurah. Pak lurah, poto KTP itu kan hitam putih. Jadi, kain kuning itu nanti juga akan jadi putih.
Pak lurah hanya mengangguk dengan wajah yang semakin jelek.
Dikembangkan dari cerita Mail
Katanya cerita ini benar-benar terjadi. Aku hanya mendengarnya dari teman yang baru kukenal tapi aku percaya padanya. Dia belum pernah berbohong padaku. Makanya aku percaya bahwa cerita ini benar-benar terjadi.
Cerita ini kudengar saat kami makan siang di warung depan kantor. Kami duduk berhadapan di meja kursi yang diletakkan di bawah pohon beringin yang rindang.
Sehabis makan masih terasa belum lengkap kalau kami belum merokok. Entah berapa batang yang telah kami bakar selama ini. Aku tidak tahu dan tidak pernah mencoba menghitungnya. Tapi aku tahu, dia juga tahu bahwa merokok mengganggu kesehatan dan bikin hidup boros. Tapi kami tetap merokok.
Masih terasa istirahat kami bila habis makan langsung berdiri dan kembali masuk ke kantor. Maka sambil merokok kami pun ngrumpi walau aku laki-laki dan dia juga laki-laki. Jangan pernah percaya kalau temanmu bilang bahwa ngrumpi adalah hobi para wanita.
Aku tidak begitu ingat mengapa siang itu dia bercerita tentang warna kuning. Aku tidak tahu apakah dia juga membenci warna kuning itu. Kejadian itu katanya terjadi di balai desa pada suatu pagi.
Pagi-pagi sekali pak lurah sudah berangkat ke Balai desa. Speaker yang berada di atas atap balai desa itu memperkeras suara pak lurah yang sedang memberikan pengumuman. Pengumuman. Siang ini adalah hari pembuatan KTP yang baru. Sederek-sederek semua harus datang ke balai desa untuk dipoto dan tandatangan. Yang tidak datang berarti tidak punya KTP yang sah. Itu berarti tidak mendukung pembangunan.
Tidak lama kemudian orang-orang sudah memenuhi halaman balai desa, tapi petugas yang memotret belum datang. Orang-orang menunggu dan menunggu. Tidak banyak yang berani untuk sekedar menggerutu. Kalaupun ada yang menggerutu atau mengeluh pasti tidak ada yang menanggapi. Semua memilih diam. Diam itu berarti lebih aman. Tak banyak yang berani menggunjing pak lurah di tempat umum seperti ini. Karena kalau saja pak lurah atau salah satu pamong desa mendengar itu berarti segala urusannya akan menjadi ruwet. Bisa-bisa ada polisi datang ke rumah dan mengajaknya pergi ke kota dan tak pernah kembali sampai setidaknya satu bulan.
Orang-orang segera berdiri ketika ada yang mendnegar bahwa tukang poto sudah datang. Tukang poto itu minta diambilkan sebuah bangku panjang. Selembar kain hijau dibentangkan dan ditempel di tembok. Bangku di letakkan di depan bentangan kain itu.
Pamong desa yang duduk mengahadi meja dengan kertas-kertas memanggil nama demi nama untuk diminta masuk ke balai desa. Delapan orang duduk di bangku dan delapan orang lagi berdiri di belakangnya. Dua orang pamong desa membantu membentangkan kain hijau di belakang punggung dan kepala delapan orang yang duduk di bangku.
Tukang poto masih sibuk menyiapkan alat-alatnya.
Tiba-tiba ada bocah kecil yang nyetetuk. Hidup petiga.
Celetukan itu disambut dengan senyuman, maksudku tawa yang ditahan. Tapi muka pak luarah tiba-tiba jadi jelek sekali. Ketika tukang poto sudah memberi aba-aba dan siap mengambil gambar, pak lurah menghentikannya. Katanya kain itu harus diganti. Dia memerintan pamong untuk mencari kain kuning.
Orang-orang harus menunggu. Tidak banyak yang berani menggerutu.
Dengan keringat yang bercucuran pamong itu datang dengan membawa dua gulung kain kuning. Kain hijau di copot dan diganti kain kuning.
Sebelum kembali memeberi aba-ba dan mengambil gambar, tukang poto itu bilang pada pak lurah. Pak lurah, poto KTP itu kan hitam putih. Jadi, kain kuning itu nanti juga akan jadi putih.
Pak lurah hanya mengangguk dengan wajah yang semakin jelek.
Dikembangkan dari cerita Mail
Tetap tidak jawaban dari Alie. Padahal aku sudah memanggilnya beberapa kali. Tentu saja aku tidak perlu berteriak. Mungkin dia sedang asyik di depan komputer. Game baru yang tadi pagi ku install tentu sangat dia sukai. Aku tahu dia suka game yang perang-perangan dengan berbagai lawan yang harus dikalahkan. Aku banga punya anak seperti dia. Semangatnya untuk menang sangat besar. Tidak pernah mau kalah. Apapun akan dia lakuakan untuk mencapai kemenangan. Tapi kadang memang agak merepotkan juga. Karena semua kemauannya harus dituruti. Mungkin karena dia masih kecil. Seperti dugaanku di masih duduk manis di depan komputer.
Sampai-sampai tidak tahu kalau Papanya yang penyayang ini sudah datang dan berdidri di belakang kursinya. Tapi aku yakin begitu aku sodorkan mainan baru ini di mejanya dia akan berteriak gembira, wah sudah lama aku ingin punya pistol. Ya, tadi aku sempatkan mampir di toko mainan. Aku belikan dia pistol-pitolan yang mrip sekali dengan pistol betulan.
Wah. Gawat. Mengapa dia tetap diam saja. Kupegang pundaknya.
‘Alie, sayang. Papa sudah pulang. Apakah Alie marah sama papa? Nih Papabelikan pistol untukmu.’
Aduh… tolong….. ada apa dengan anakku?
Alie, kau kenapa, Nak? Mengapa tubuhmu tadi patung batu? Oh pundakmu jatuh…. Tanganmu patah,…
Lelaki berdasi itu terus berteriak-teriak. Bajunya yang utih bersih kini dikotori debu. Debu dari patung batu yang rapuh. Hancur jadi debu karena dia telah memeluknya.
Dan komputer itu tidak tahu apa yang terjadi dengan dua manusia yang ada di depannya. Speakernya masih menyanyikan lagu riang berirama cepat. Lagu peperangan.
Sampai-sampai tidak tahu kalau Papanya yang penyayang ini sudah datang dan berdidri di belakang kursinya. Tapi aku yakin begitu aku sodorkan mainan baru ini di mejanya dia akan berteriak gembira, wah sudah lama aku ingin punya pistol. Ya, tadi aku sempatkan mampir di toko mainan. Aku belikan dia pistol-pitolan yang mrip sekali dengan pistol betulan.
Wah. Gawat. Mengapa dia tetap diam saja. Kupegang pundaknya.
‘Alie, sayang. Papa sudah pulang. Apakah Alie marah sama papa? Nih Papabelikan pistol untukmu.’
Aduh… tolong….. ada apa dengan anakku?
Alie, kau kenapa, Nak? Mengapa tubuhmu tadi patung batu? Oh pundakmu jatuh…. Tanganmu patah,…
Lelaki berdasi itu terus berteriak-teriak. Bajunya yang utih bersih kini dikotori debu. Debu dari patung batu yang rapuh. Hancur jadi debu karena dia telah memeluknya.
Dan komputer itu tidak tahu apa yang terjadi dengan dua manusia yang ada di depannya. Speakernya masih menyanyikan lagu riang berirama cepat. Lagu peperangan.
Hari sudah pagi. Aku belum juga mati.
Oleh :Faiq
Hari sudah pagi. Sepi. Hanya aku penghuni rumah ini. Istriku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Anakku, tiga-tiganya sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri. Sekarang mereka sedang menjalani hari seperti aku dulu. Tinggal di rumah yang ramai. Ada anak-anak. Kadang ada tawa dan canda ceria. Kadang ada teriakan dan makian marah. Kadang ada jerit dan tangis. Suatu hari nanti mereka pasti akan mengalami apa yang kualami sekarang. Anak-anak itu, satu persatu akan pergi meninggalkan rumah. Setelah itu tinggal menunggu pasangan hidupnya pergi untuk selamanya. Apa lagi kalau bukan sepi yang terasa, bila setiap hari sendirian. Rumah terasa terlalu besar, kosong dan hampa. Tapi mungkin tidak persis seperti itu. Memang, di dunia ini tidak ada yang benar-benar sama. Yang ada hanya serupa tapi tetap tidak sama.
Hari ini pasti berbeda dengan hari kemarin walaupun banyak hal yang sama. Seperti kemarin, pagi ini kuambil koran yang terselip di salah satu sela jeruji besi gerbang rumah ini. Kubaca sambil duduk di kursi goyang di teras depan. Tentu saja berita hari ini berbeda dengan berita kemarin. Tapi pada dasarnya sama saja. Koran ini selalu bercerita tentang si A yang bicara begini dan si B bilang begitu, kerusuhan di daerah C dan D belum juga selesai, disusul kerusuhan baru di daerah E, bencana alam melanda daerah F, karyawan PT G melakukan mogok masal, ada penemuan teknologi baru oleh ilmuwan H, kecelakaan lalu lintas di jalan I, LSM J mengritik kebijakan K, dan sebagainya, dan sebagainya. Ada juga berita duka kematian di samping berbagai jenis iklan.
Apa yang kumakan hari ini pada dasarnya tidak berbeda dengan kemarin. Kemarin sarapan bubur ayam, sekarang sarapan nasi kuning. Tapi aku masih sarapan di tempat yang sama, di trotoar, tepi jalan, depan perumahan ini. Acara TV setiap hari tentu berbeda tapi tetap itu-itu saja; berita, sinetron, musik, kuis, dialog dengan pakar, dan film. Aku tidak tahu apakah tidurku malam ini sama dengan tidurku kemarin. Sangat mungkin mimpiku hari ini tetap sama dengan mimpiku yang kemarin.
Hari sudah pagi. Aku belum mati juga.
Tadi malam aku mimpi apa? Aku bermimpi seperti kemarin, Persis. Tapi otakku yang sudah tua ini tidak mampu mengingatnya dengan baik. Aku merasa seperti berada di sebuah… ah entahlah. Yang pasti saat itu aku me…. Ah mengapa aku tidak ingat apa yang aku lakukan semalam…. Aneh. Aku tidak tahu mengapa ingatan yang selalu kuasah tiba-tiba semakin lemah. Makin hari semakin sering aku lupa. Kemarin aku bingung mencari-cari kaos putih kesayanganku yang ternyata sudah kupakai. Tadi pagi, aku lupa menaruh korek. Sampai sekarang aku belum menemukannya padahal aku mau menyalakan kompor. Aku ingin bikin kopi.
Sudah lama aku tidak minum kopi. Terakhir kali kuminum kopi adalah puluhan tahun yang lalu. Pagi itu aku duduk di kantin fakultas seorang diri. Teman-teman bekum datang. Aku hanya ditemani secangkir kopi. Sesaat kemudian datanglah dia. Tak perlu kuceritakan bagaimana indahnya perkenalan kami pagi itu. Yang pasti, sejak saat itu aku mulai menjauhi kopi. Sejak kami menikah, istriku mengharamkan kopi untukku. Di dapur kami tidak kopi atau pun teh. Setiap ada tamu istriku selalu menawarkan jeruk, jahe, atau secang. Kadang ada juga tamu yang minta air putih saja.
Maka bertahun-tahun aku selalu mencoba menyelundupkan kopi ke dalam rumah karena aku hanya ingin menikmati kopi di waktu pagi. Sejak dulu, sejak aku belum menikah, terbayang jelas rencanaku; pagi-pagi duduk di beranda rumah membaca koran sambil minum kopi setelah itu menulis sebuah puisi yang akan kubaca-baca dan kubenahi sambil merebus lima butir telur sampai setengah matang. Sambil mandi kulantunkan bait-bait itu,dan kubacakan lagi di meja makan saat sarapan bersama anak-anak dan istri.
Rencana itu hilang. Tak pernah ada kopi di meja bambu dekat kursi goyang saat aku membuka-buka koran. Maka tidak pernah ada puisi lagi di pagi hari. Awalnya aku jengkel dengan larangan isrtriku ini tapi aku tetap ingin menulis puisi. Tapi, setiap kali aku mencoba menulis puisi aku teringat kopi. Hilang semua inspirasi. Ah mungkin aku hanya mencari-cari alasan. Sepertinya aku memang tidak bakat jadi penyair. Tapi, jujur saja aku ingin sekali menulis puisi. Ah seandainya saja istriku tidak…
Suatu siang, sepulang dari mengajar aku sempatkan membeli beberapa sachet kopi instan, kumasukkan ke dalam bekas amplop soal ujian. Amplop coklat itu segera kuselipkan di antara diktat dan buku-buku di meja kamarku. Paginya kuletakkan amplop coklat itu beserta beberapa buku pada meja. Kuambil gelas dan kuisi air panas. Sebuah sendok kecil sudah kusembunyikan di gulungan sarungku. Kau tahu apa yang terjadi? Amplop coklat itu sudah kosong. Tidak ada kopi instan sesachet pun.
Hingga malam tiba korek belum kutemukan. Aku sudah tak ingin menyalakan kompor dan memasak air untuk membuat kopi. Aku butuh korek itu karena sekarang aku ingin membakar koran. Sudah dua hari ini aku gagal membakarnya padahal sudah sejak tiga hari yang lalu aku bertekad untuk tidak membaca koran. Aku tidak mau membaca berita kematian lagi. Aku harus membakar koran itu setiap pagi sebelum aku atau orang lain tergoda untuk membacanya.
Hari sudah pagi. Aku belum mati juga. Mimpi apa aku semalam? Aku tidak bisa mengingatnya. Yang pasti di dalam mimpi itu aku sendirian….
Korek. Mana korek? Aku harus membakar koran itu.
Hari sudah pagi lagi. Aku belum mati. Sepi semakin menjadi-jadi.
Seperti kemarin, kutunggu tukang koran itu dengan korek api tergenggam di tangan telapak kiri. Tukang sampah sudah datang. Itu berarti sebentar lagi tukang koran akan segara datang. Aku sudah tak sabar lagi. Api akan menyambutmu wahai koran pagi.
Hari sudah pagi lagi. Aku belum mati.
Seperti kemarin kutunggu koran pagi. Telapak kiri menggenggam erat korek api.
Tukang sampah datang. Itu berarti… Eh tukang sampah itu mengajakku bicara. Ah sudah berapa lama aku tidak bicara dengan orang.
“Den, apakah boleh saya minta koran yang kemarin, Den.”
“Apa?”
“Koran kemarin, Den. Bolehkah saya minta koran yang kemarin. Kata teman-teman, foto saya ada di koran. Waktu itu saya sedang lihat-lihat pameran tanaman hias. Katanya saya dapat hadiah karena foto saya diberi tanda bintang. Bolehkah saya minta koran kemarin itu, Den…..”
“Wah.. maaf. Koran yang kemarin sudah tidak ada.”
Tukang sampah itu pergi. Tapi tidak jadi karena tukang koran datang. Aku segera menerima koran pagi ini, sedangkan tukang sampah segera menanyakan apakah tukang koran masih punya koran yang kemarin. Aku segera masuk. Aku ingin secepatnya membakar koran ini di belakang rumah tapi… aku tidak bisa. Kulemapr koran itu ke lantai.
Lamat-lamat kudengar tukang koran dan tukang sampah tawar menawar. Aku keluar. Tukangsamapah sudah pergi.
“Kau jual berapa koran kemarin itu?”
“Seharga koran baru.”
“Kejam kamu.”
“Bapak lebih kejam. Bapak kan punya koran kemarin mengapa tidak diberikan saja. Kalau memang tidak boleh, bilang saja. Tak perlu bilang sudah tidak ada. Masa koran baru kemarin kok sudah tidak ada.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menannyakan kembali apakah langganan koranku bisa dihentikan? Dia bilang bisa tapi uangnya tetap tidak bisa dikembalikan.
Hari sudah pagi. Aku belum mati. Tapi hari ini tidak akan ada koran terselip di pintu gerbang itu. Tebakanku salah. Di sini, di jeruji besi ini ada koran.
“Itu buat Raden. Koran Raden yang kemarin itu kan tidak ada.”
“Wah. Tidak. Tidak. Ohya. Bagaimana ? Dapat hadia berapa?”
“Wah hadiah itu tidak bisa diambil, Den.”
“Kenapa?”
“Saya tidak punya KTP.”
Yogyakarta, Juli 2004
Oleh :Faiq
Hari sudah pagi. Sepi. Hanya aku penghuni rumah ini. Istriku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Anakku, tiga-tiganya sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri. Sekarang mereka sedang menjalani hari seperti aku dulu. Tinggal di rumah yang ramai. Ada anak-anak. Kadang ada tawa dan canda ceria. Kadang ada teriakan dan makian marah. Kadang ada jerit dan tangis. Suatu hari nanti mereka pasti akan mengalami apa yang kualami sekarang. Anak-anak itu, satu persatu akan pergi meninggalkan rumah. Setelah itu tinggal menunggu pasangan hidupnya pergi untuk selamanya. Apa lagi kalau bukan sepi yang terasa, bila setiap hari sendirian. Rumah terasa terlalu besar, kosong dan hampa. Tapi mungkin tidak persis seperti itu. Memang, di dunia ini tidak ada yang benar-benar sama. Yang ada hanya serupa tapi tetap tidak sama.
Hari ini pasti berbeda dengan hari kemarin walaupun banyak hal yang sama. Seperti kemarin, pagi ini kuambil koran yang terselip di salah satu sela jeruji besi gerbang rumah ini. Kubaca sambil duduk di kursi goyang di teras depan. Tentu saja berita hari ini berbeda dengan berita kemarin. Tapi pada dasarnya sama saja. Koran ini selalu bercerita tentang si A yang bicara begini dan si B bilang begitu, kerusuhan di daerah C dan D belum juga selesai, disusul kerusuhan baru di daerah E, bencana alam melanda daerah F, karyawan PT G melakukan mogok masal, ada penemuan teknologi baru oleh ilmuwan H, kecelakaan lalu lintas di jalan I, LSM J mengritik kebijakan K, dan sebagainya, dan sebagainya. Ada juga berita duka kematian di samping berbagai jenis iklan.
Apa yang kumakan hari ini pada dasarnya tidak berbeda dengan kemarin. Kemarin sarapan bubur ayam, sekarang sarapan nasi kuning. Tapi aku masih sarapan di tempat yang sama, di trotoar, tepi jalan, depan perumahan ini. Acara TV setiap hari tentu berbeda tapi tetap itu-itu saja; berita, sinetron, musik, kuis, dialog dengan pakar, dan film. Aku tidak tahu apakah tidurku malam ini sama dengan tidurku kemarin. Sangat mungkin mimpiku hari ini tetap sama dengan mimpiku yang kemarin.
Hari sudah pagi. Aku belum mati juga.
Tadi malam aku mimpi apa? Aku bermimpi seperti kemarin, Persis. Tapi otakku yang sudah tua ini tidak mampu mengingatnya dengan baik. Aku merasa seperti berada di sebuah… ah entahlah. Yang pasti saat itu aku me…. Ah mengapa aku tidak ingat apa yang aku lakukan semalam…. Aneh. Aku tidak tahu mengapa ingatan yang selalu kuasah tiba-tiba semakin lemah. Makin hari semakin sering aku lupa. Kemarin aku bingung mencari-cari kaos putih kesayanganku yang ternyata sudah kupakai. Tadi pagi, aku lupa menaruh korek. Sampai sekarang aku belum menemukannya padahal aku mau menyalakan kompor. Aku ingin bikin kopi.
Sudah lama aku tidak minum kopi. Terakhir kali kuminum kopi adalah puluhan tahun yang lalu. Pagi itu aku duduk di kantin fakultas seorang diri. Teman-teman bekum datang. Aku hanya ditemani secangkir kopi. Sesaat kemudian datanglah dia. Tak perlu kuceritakan bagaimana indahnya perkenalan kami pagi itu. Yang pasti, sejak saat itu aku mulai menjauhi kopi. Sejak kami menikah, istriku mengharamkan kopi untukku. Di dapur kami tidak kopi atau pun teh. Setiap ada tamu istriku selalu menawarkan jeruk, jahe, atau secang. Kadang ada juga tamu yang minta air putih saja.
Maka bertahun-tahun aku selalu mencoba menyelundupkan kopi ke dalam rumah karena aku hanya ingin menikmati kopi di waktu pagi. Sejak dulu, sejak aku belum menikah, terbayang jelas rencanaku; pagi-pagi duduk di beranda rumah membaca koran sambil minum kopi setelah itu menulis sebuah puisi yang akan kubaca-baca dan kubenahi sambil merebus lima butir telur sampai setengah matang. Sambil mandi kulantunkan bait-bait itu,dan kubacakan lagi di meja makan saat sarapan bersama anak-anak dan istri.
Rencana itu hilang. Tak pernah ada kopi di meja bambu dekat kursi goyang saat aku membuka-buka koran. Maka tidak pernah ada puisi lagi di pagi hari. Awalnya aku jengkel dengan larangan isrtriku ini tapi aku tetap ingin menulis puisi. Tapi, setiap kali aku mencoba menulis puisi aku teringat kopi. Hilang semua inspirasi. Ah mungkin aku hanya mencari-cari alasan. Sepertinya aku memang tidak bakat jadi penyair. Tapi, jujur saja aku ingin sekali menulis puisi. Ah seandainya saja istriku tidak…
Suatu siang, sepulang dari mengajar aku sempatkan membeli beberapa sachet kopi instan, kumasukkan ke dalam bekas amplop soal ujian. Amplop coklat itu segera kuselipkan di antara diktat dan buku-buku di meja kamarku. Paginya kuletakkan amplop coklat itu beserta beberapa buku pada meja. Kuambil gelas dan kuisi air panas. Sebuah sendok kecil sudah kusembunyikan di gulungan sarungku. Kau tahu apa yang terjadi? Amplop coklat itu sudah kosong. Tidak ada kopi instan sesachet pun.
Hingga malam tiba korek belum kutemukan. Aku sudah tak ingin menyalakan kompor dan memasak air untuk membuat kopi. Aku butuh korek itu karena sekarang aku ingin membakar koran. Sudah dua hari ini aku gagal membakarnya padahal sudah sejak tiga hari yang lalu aku bertekad untuk tidak membaca koran. Aku tidak mau membaca berita kematian lagi. Aku harus membakar koran itu setiap pagi sebelum aku atau orang lain tergoda untuk membacanya.
Hari sudah pagi. Aku belum mati juga. Mimpi apa aku semalam? Aku tidak bisa mengingatnya. Yang pasti di dalam mimpi itu aku sendirian….
Korek. Mana korek? Aku harus membakar koran itu.
Hari sudah pagi lagi. Aku belum mati. Sepi semakin menjadi-jadi.
Seperti kemarin, kutunggu tukang koran itu dengan korek api tergenggam di tangan telapak kiri. Tukang sampah sudah datang. Itu berarti sebentar lagi tukang koran akan segara datang. Aku sudah tak sabar lagi. Api akan menyambutmu wahai koran pagi.
Hari sudah pagi lagi. Aku belum mati.
Seperti kemarin kutunggu koran pagi. Telapak kiri menggenggam erat korek api.
Tukang sampah datang. Itu berarti… Eh tukang sampah itu mengajakku bicara. Ah sudah berapa lama aku tidak bicara dengan orang.
“Den, apakah boleh saya minta koran yang kemarin, Den.”
“Apa?”
“Koran kemarin, Den. Bolehkah saya minta koran yang kemarin. Kata teman-teman, foto saya ada di koran. Waktu itu saya sedang lihat-lihat pameran tanaman hias. Katanya saya dapat hadiah karena foto saya diberi tanda bintang. Bolehkah saya minta koran kemarin itu, Den…..”
“Wah.. maaf. Koran yang kemarin sudah tidak ada.”
Tukang sampah itu pergi. Tapi tidak jadi karena tukang koran datang. Aku segera menerima koran pagi ini, sedangkan tukang sampah segera menanyakan apakah tukang koran masih punya koran yang kemarin. Aku segera masuk. Aku ingin secepatnya membakar koran ini di belakang rumah tapi… aku tidak bisa. Kulemapr koran itu ke lantai.
Lamat-lamat kudengar tukang koran dan tukang sampah tawar menawar. Aku keluar. Tukangsamapah sudah pergi.
“Kau jual berapa koran kemarin itu?”
“Seharga koran baru.”
“Kejam kamu.”
“Bapak lebih kejam. Bapak kan punya koran kemarin mengapa tidak diberikan saja. Kalau memang tidak boleh, bilang saja. Tak perlu bilang sudah tidak ada. Masa koran baru kemarin kok sudah tidak ada.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya menannyakan kembali apakah langganan koranku bisa dihentikan? Dia bilang bisa tapi uangnya tetap tidak bisa dikembalikan.
Hari sudah pagi. Aku belum mati. Tapi hari ini tidak akan ada koran terselip di pintu gerbang itu. Tebakanku salah. Di sini, di jeruji besi ini ada koran.
“Itu buat Raden. Koran Raden yang kemarin itu kan tidak ada.”
“Wah. Tidak. Tidak. Ohya. Bagaimana ? Dapat hadia berapa?”
“Wah hadiah itu tidak bisa diambil, Den.”
“Kenapa?”
“Saya tidak punya KTP.”
Yogyakarta, Juli 2004
Thursday, July 15, 2004
Pedang api
Kudengar suara motor keras sekali. Wah pasti sedang ada kampanye. Aku ingin menontonnya. Tadi pagi, teman-temanku di kelas empat bercerita tentang kampanye itu. Hanya aku yang tidak bisa ikut bercerita. Aku hanya mendengarkan dan bertanya. Aku tidak tahu kalau kemarin ada kampanye. Waktu arak-arakan kampanyne lewat di jalan depan desa, aku sedang mengangsu air. Siang ini ada kampanye lagi tapi partai yang lain. Aku ingin menontonnya.
Siang ini aku ingin melihat kampanye dengan mata kepalaku sendiri. Aku segera keluar rumah dan berlari menuju jalan raya. Aku berdiri di tepi jalan. Ternyata sangat ramai sekali. Mereka seperti memakai seragam. Warna kaos mereka sama. Gambarnya juga banyak yang sama.
Mereka berarak-arakan seperti sekumpulan itik. Ya, seperti itik petelur yang digiring pak Karmin ke sungai untuk mencari makan. Mereka berarak memenuhi jalan dan berisik. Wek wek wek wek.
Peserta kampanye ini juga berisik. Mereka naik motor. Suara knalpotnya keras sekali dan memekakkan telinga. Ada yang berbunyi geng ngen, ada yang tron tong, ada yang tokotok.. dan lain sebagainya. Suara itu tumpang tindih tidak karu-karuan. Ditambah lagi suara klakson dan teriakan-teriakan. Ditambah lagi suara musik yang distel keras-keras. Musik dangdut itu berasal dari salon-salon besar yang diangkut di atas truk.
Ada yang berjoget dan menari-nari seperti orang gila. Ada yang wajahnya dicoreng-coreng. Ada yang kepalanya dibungkus kain hingga yang terlihat hanya matanya. Mereka melambaikan bendera partainya atau mengacung-acungkan tangannya ke udara dengan penuh semangat.
Tiba-tiba tanganku ditarik. “Jangan berdiri di sini. Berbahaya. Ayo ke sana saja.”
Aku agak terkejut dengan suara Adi. Adi adalah temanku di kelas empat. Rumahnya tidak jauh dari jalan. Dia mengajakku berdiri di balik pagar, di halaman rumahnya.
“Lho kan lebih enak nonton dari sana? Lebih dekat.”
Dia menggeleng. “Berbahaya.”
Aku tidak tahu mengapa melihat kampanye dari dekat berbahaya. Maka aku bertanya lagi “Kenapa?”
“Kau bisa ditabrak motor atau dipukul dengan pedang.”
“Pedang? Ada yang membawa pedang? Wah seperti pendekar yang berangkat perang ya?!”
“Iya. Makanya kita harus sembunyi di sini. Kalau kau berdiri di tepi jalan, kepalamu bisa dipenggal dengan pedang. Tadi kulihat pedang itu menyala. Mengeluarkan api.”
“Benarkah?”
Dia mengangguk.
Ketika sampai di rumah, ibu menanyaiku, “Dari mana?”
“Lihat kampanye, Bu.”
“Kok tidak pamit?”
Aku tidak bias menjawab. Aku hanya diam. Memang aku tdai tidak pamit.
“Ya sudah. Lain kali pamit, ya.”
Aku mengangguk. Aku segera bercerita pada ibu. Kubercerita tentang kampanye dan pedang yang bisa menyala. Tapi ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak mungkin. Masa pedang bisa menyala dan mengeluarkan api”
“Tapi pedang itu benar-benar mengeluarkan api. Crat crat. Begitu. Seperti kembang api. Mungkin itu pedang sakti seperti pedangnya star wars.”
“Kamu melihat sendiri?”
“Emm tidak. Tapi Adi melihat sendiri.”
Ibu menggeleng. “Paling dia melebih-lebihkan ceritanya. Yang bisa menyala dan mengeluarkan api itu korek namannya.”
“Mengapa korek bisa mengeluarkan api?”
Ibu diam saja. Aku bertanya lagi, “Mengapa korek bisa menyala dan mengeluarkan api?”
“Ibu tidak tahu. Tuh tanya pada kakakmu.”
Kuhampiri kakak yang baru saja pulang sekolah. Kakak sudah kelas dua SMU. Sekolahnya jauh. Kalau berangkat sekolah, kakak naik angkot.
“Kak mengapa baru datang?”
“Iya. Jalannya macet karena ada kampanye.”
“Kak, masa ibu tidak percaya kalau ada pedang yang bisa menyala. Kalau pedangnya sakti kan memang bisa menyala. Ya nggak?!”
“Wah maaf ya, Dik. Kakak tidak tahu pedang sakti itu yang seperti apa.”
“Itu yang seperti di film.”
“Iya. Tapi itu di kan hanya di film. Belum tentu benar-benar ada.”
“Tapi… di kampanye tadi ada yang bawa pedang yang bisa menyala, kak. Yang bawa pedang itu kepalanya ditutup. Dia diboncengkan temannya. Temannya suka ngebut. Pedang itu diseret di atas aspal. Craaaaaaattttt. Ujung peang itu mengeluarkan api.”
Kakakku mengangguk lalu mengajakku pergi ke dapur. Dia mengambil palu dan paku. Kakak berjalan ke luar rumah. Aku tidak tahu buat apa paku dan palu besi itu. Kakak berhenti dan berjongkok di dekat apotik hidup. Di situ ada batu yang agak besar.
“Pedang itu pasti keras seperti paku dan palu ini. Jalan aspal juga keras. Bila dua benda itu bertabrakan maka keluarlah percik-percik api seperti ini.” Kakak meletakkan paku di atas batu lalu memukulnya dengan palu. Semakin keras palu diayunkan, maka semakin banyak percikan apinya.
“Oo ternyata begitu. Jadi pedang yang tidak sakti juga bias berapi ya.?!”
Kakak mengangguk.[]
Kudengar suara motor keras sekali. Wah pasti sedang ada kampanye. Aku ingin menontonnya. Tadi pagi, teman-temanku di kelas empat bercerita tentang kampanye itu. Hanya aku yang tidak bisa ikut bercerita. Aku hanya mendengarkan dan bertanya. Aku tidak tahu kalau kemarin ada kampanye. Waktu arak-arakan kampanyne lewat di jalan depan desa, aku sedang mengangsu air. Siang ini ada kampanye lagi tapi partai yang lain. Aku ingin menontonnya.
Siang ini aku ingin melihat kampanye dengan mata kepalaku sendiri. Aku segera keluar rumah dan berlari menuju jalan raya. Aku berdiri di tepi jalan. Ternyata sangat ramai sekali. Mereka seperti memakai seragam. Warna kaos mereka sama. Gambarnya juga banyak yang sama.
Mereka berarak-arakan seperti sekumpulan itik. Ya, seperti itik petelur yang digiring pak Karmin ke sungai untuk mencari makan. Mereka berarak memenuhi jalan dan berisik. Wek wek wek wek.
Peserta kampanye ini juga berisik. Mereka naik motor. Suara knalpotnya keras sekali dan memekakkan telinga. Ada yang berbunyi geng ngen, ada yang tron tong, ada yang tokotok.. dan lain sebagainya. Suara itu tumpang tindih tidak karu-karuan. Ditambah lagi suara klakson dan teriakan-teriakan. Ditambah lagi suara musik yang distel keras-keras. Musik dangdut itu berasal dari salon-salon besar yang diangkut di atas truk.
Ada yang berjoget dan menari-nari seperti orang gila. Ada yang wajahnya dicoreng-coreng. Ada yang kepalanya dibungkus kain hingga yang terlihat hanya matanya. Mereka melambaikan bendera partainya atau mengacung-acungkan tangannya ke udara dengan penuh semangat.
Tiba-tiba tanganku ditarik. “Jangan berdiri di sini. Berbahaya. Ayo ke sana saja.”
Aku agak terkejut dengan suara Adi. Adi adalah temanku di kelas empat. Rumahnya tidak jauh dari jalan. Dia mengajakku berdiri di balik pagar, di halaman rumahnya.
“Lho kan lebih enak nonton dari sana? Lebih dekat.”
Dia menggeleng. “Berbahaya.”
Aku tidak tahu mengapa melihat kampanye dari dekat berbahaya. Maka aku bertanya lagi “Kenapa?”
“Kau bisa ditabrak motor atau dipukul dengan pedang.”
“Pedang? Ada yang membawa pedang? Wah seperti pendekar yang berangkat perang ya?!”
“Iya. Makanya kita harus sembunyi di sini. Kalau kau berdiri di tepi jalan, kepalamu bisa dipenggal dengan pedang. Tadi kulihat pedang itu menyala. Mengeluarkan api.”
“Benarkah?”
Dia mengangguk.
Ketika sampai di rumah, ibu menanyaiku, “Dari mana?”
“Lihat kampanye, Bu.”
“Kok tidak pamit?”
Aku tidak bias menjawab. Aku hanya diam. Memang aku tdai tidak pamit.
“Ya sudah. Lain kali pamit, ya.”
Aku mengangguk. Aku segera bercerita pada ibu. Kubercerita tentang kampanye dan pedang yang bisa menyala. Tapi ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak mungkin. Masa pedang bisa menyala dan mengeluarkan api”
“Tapi pedang itu benar-benar mengeluarkan api. Crat crat. Begitu. Seperti kembang api. Mungkin itu pedang sakti seperti pedangnya star wars.”
“Kamu melihat sendiri?”
“Emm tidak. Tapi Adi melihat sendiri.”
Ibu menggeleng. “Paling dia melebih-lebihkan ceritanya. Yang bisa menyala dan mengeluarkan api itu korek namannya.”
“Mengapa korek bisa mengeluarkan api?”
Ibu diam saja. Aku bertanya lagi, “Mengapa korek bisa menyala dan mengeluarkan api?”
“Ibu tidak tahu. Tuh tanya pada kakakmu.”
Kuhampiri kakak yang baru saja pulang sekolah. Kakak sudah kelas dua SMU. Sekolahnya jauh. Kalau berangkat sekolah, kakak naik angkot.
“Kak mengapa baru datang?”
“Iya. Jalannya macet karena ada kampanye.”
“Kak, masa ibu tidak percaya kalau ada pedang yang bisa menyala. Kalau pedangnya sakti kan memang bisa menyala. Ya nggak?!”
“Wah maaf ya, Dik. Kakak tidak tahu pedang sakti itu yang seperti apa.”
“Itu yang seperti di film.”
“Iya. Tapi itu di kan hanya di film. Belum tentu benar-benar ada.”
“Tapi… di kampanye tadi ada yang bawa pedang yang bisa menyala, kak. Yang bawa pedang itu kepalanya ditutup. Dia diboncengkan temannya. Temannya suka ngebut. Pedang itu diseret di atas aspal. Craaaaaaattttt. Ujung peang itu mengeluarkan api.”
Kakakku mengangguk lalu mengajakku pergi ke dapur. Dia mengambil palu dan paku. Kakak berjalan ke luar rumah. Aku tidak tahu buat apa paku dan palu besi itu. Kakak berhenti dan berjongkok di dekat apotik hidup. Di situ ada batu yang agak besar.
“Pedang itu pasti keras seperti paku dan palu ini. Jalan aspal juga keras. Bila dua benda itu bertabrakan maka keluarlah percik-percik api seperti ini.” Kakak meletakkan paku di atas batu lalu memukulnya dengan palu. Semakin keras palu diayunkan, maka semakin banyak percikan apinya.
“Oo ternyata begitu. Jadi pedang yang tidak sakti juga bias berapi ya.?!”
Kakak mengangguk.[]
Ky yang baik…
Entah mengapa sampai sekarang aku masih merasa belum benar-benar mengenalmu padahal sudah lama aku berteman denganmu. Aku sudah tidak ingat lagi kapan jabat tangan kita pertama kali. Yang pasti di sore hari, di bangku putih, di bawah pohon belimbing di halaman pendopomu. Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah mendengar namamu. Ya, kau sudah lama menjadi buah bibir beberapa temanku. Ada yang bilang kedatanganmu di kota ini, akan membuat kota ini berubah bahkan mengubah dunia. Ada yang bilang kau sangat cantik. Rugi kalau tidak pernah bertemu denganmu.
Waktu itu kucoba bertahan untuk tidak tertarik padamu. Namamu memang menarik tapi aku tidak mau tertipu oleh nama yang kadangkala bertolak belakang dengan orangnya.
Walau ada keinginan besar yang meledak-ledak di dada, dengan sekuat tenaga kutahan untuk tidak melangkahkan kaki mencarimu, sosok yang belum aku kenal. Aku hanya tahu namamu dan sedikit tentang aktivitasmu. Kukira memang belum tiba waktu untuk kita bertemu. Maka kusimpan rapat-rapat rasa rindu ini. Rindu ? Ah entahlah. Mungkin terlalu dini bila kusebut kata itu. Apa kata dunia kalau tahu aku rindu seseorang yang belum pernah kulihat. Ya, bagiku, haram hukumnya jatuh cinta sebelum beradu pandang. Dari pertarungan mata itu akan terlihat siapa yang akan jatuh. Dan jangan berharap kau bisa menjatuhkanku. Memangnya aku cowok apaan. Ya nggak?! Pokoknya aku tidak mau jatuh cinta padamu hanya karena kudengar banyak orang telah memuji dan mengagumimu.
Maka kujalani hari-hari sebagai mata-mata. Diam-diam memburumu. Selidik sana selidik sini. Nguping sana nguping sini. Tapi jangan salah. Aku tidak mencari tahu apakah kau masih kuliah atau sudah kerja, orang tuamu usaha apa, musik apa kesukaanmu, siapa idolamu, dan sebagainya. Aku lebih tertarik untuk bertanya mengapa tiba-tiba kau muncul di kota ini, di dunia ini. Apa aktivitasmu, dan apa yang kau cari.
Maka terkutuklah aku karena tiba-tiba ada bara menyala di dada waktu kudengar seseorang mendekatimu. Tapi sebagai mata-mata aku harus diam.
Waktu berlalu dan aku mulai mengenalmu sekeping demi sekeping. Kutemukan catatan-catatan kecil tentang dirimu terselip di beberapa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, brosur dan leaflet-leaflet. Maka kusimpulkan duniamu tidak jauh-jauh dari tulis menulis. Ada yang bilang kau suka menulis karena kau punya pengalaman aneh. Kau bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh mata orang kebanyakan.
Orang-orang sambil tertawa-tawa mengomentari gambar karikatur. Tapi malah terserang sesak nafas. Kau bilang ada darah merembes, menetes dan terus menetes dari luka goresan pensil.
Orang-orang dengan menikmati cerpen di koran minggu, tapi kau malah muntah-muntah begitu melihatnya. Kau bilang ada kepala di koran itu. Kepala dengan memar-memar biru. “Cerpen itu diketik di atas dahimu,” teriakmu, “pipi, hidung, mata juga!”
Kau tidak pernah bisa membaca novel karena setiap kali kau buka lembar-lembarnya akan terlihat dengan jelas, borgol, palu, tali, rantai, plaster, kawat berduri, dan batu. Benda-benda itu bergerak-gerak siap melompat mengeroyok tubuhmu kalau kau tidak cepet-cepat menutupnya.
Memang tidak semua novel, cerpen, atau puisi, yang kau baca seperti itu. Ada juga yang menyajikan kisah yang menarik. Sebuah kisah yang benar-benar bermanfaat; menghiburmu. Tapi kau tidak suka. Kau bilang langsung terserang kantuk. Setelah itu kau tertidur lelap hingga ibumu marah-marah karena susah dibangungkan. Kau mengaku seperti merasa mengalami mati rasa. Setelah bangun pun matamu susah sekali dibuka. Kau tidak bisa melihat wajah ibumu dengan jelas. Penglihatanmu kabur.
Oh kasihan sekali dirimu. Kau tidak pernah bisa menikmati lukisan. Kau bilang begitu kau coba melihatnya, kanvas itu segara melayang membungkus kepalamu, menyumpal mata, telinga, dan mulut, membelit tangan dan kakimu…
Begitu pula ketika kau mau membaca koran atau majalah.
Lalu… apa yang bisa kau baca, bisa kau lihat, bisa kau tonton kalau tv juga selalu segera melayang menghantam kepalamu saat kau pencet remotenya? Tapi kau masih hidup kan? Ya, kau harus tetap bertahan hidup setidaknya sampai kau menemuiku. Semakin cepat kau bertemu denganku itu akan semakin baik bagimu. Kau tahu apa yang akan membuat semangat hidupmu meningkat tinggi? Itulah aku.
Tapi maaf. Aku tidak akan melangkah mendekatimu. Ingat, aku hanya menunggumu. Walau begitu bukan berarti aku berhenti memburumu. Saat itu aku merasa semakin belum mengenalmu. Penyelidikan belum selesai. Aku masih memburu foto waktu kecilmu. Aku juga penasaran seperti apa tulisanmu. Apakah kau akan berkisah tentang bunga dan rindu, atau hama dan peluru, atau …
Suatu malam, seorang teman yang mengaku sudah bersahabat dengamu, menyodorkan sebuah terbitan padaku. Semacam majalah atau news letter tapi agak beda. Sampulnya full gambar. Tidak ada jajaran huruf besar-besar yang mengabarkan isi di balik sampul berwarna cerah ceria itu. Kutimang-timang majalah tipis itu, kubolak-balik, lalu kubuka. Ternyata aku sedang berhadapan dengan terbitanmu.
Aku mencoba tetap menguasai diri. Aku harus bersikap biasa agar temanku tidak curiga. Kucoba membaca tulisanmu tapi barisan-barisan kata mengabur, melayang membentuk bayanganmu yang sedang duduk manis tidak jauh di belakangku. Aku berusaha untuk tidak menoleh. Aku berharap kau yang akan menyapaku. Tapi saat itu aku kalah. Aku menoleh... Sial! Kau pura-pura tidak tahu dan melukis senyum sinis di bibirmu, senyum Liu Lu Sian pada Kwee Seng di dongeng Kopingho.
Kuhapus bayang itu dan kucoba membaca lagi. Setelah beberapa tulisan kubaca kuletakkan terbitan itu. Maaf, saat itu aku tidak tertarik dengan terbitanmu, terlalu banyak kalimat-kalimat panjang. Sungguh sangat jauh dari yang aku bayangkan. Kau, seorang yang selalu tersiksa oleh karya-karya orang lain tapi kok tulisanmu hanya seperti ini.
Mungkin kesimpulan itu terlalu tergesa karena saat itu tidak satu tulisanpun berhasil aku baca sampai selesai. Maaf.
Waktu terus berjalan dan jarak kita semakin dekat. Aku yakin, kau juga merasakan tapi kau sok cool. Jangan harap kubirakan diriku terseret, tertatih-tatih menghampirimu. Jangan lupa, semuanya sudah kupersiapkan. Aku hanya menunggu waktu. Kau pasti membutuhkanku. Tunggu saja.
Dan waktu itu telah tiba hampir setahun yang lalu.
Pagi itu untuk pertama kalinya kulihat kamarmu. Aih… berantakan sekali. Banyak sekali yang menyambut kedatanganku; kertas, asbak, gelas, korek, disket, abu dan puntung rokok, bekas batang korek, bungkus rokok yang telah kosong, bekas voucer pulsa HP, obeng, spidol, cutter, kotak tisu yang telah beralih fungsi, lem, lakban, solasi, amplop, kabel, disket, palstik, piring, HP, charger sendok, sajadah, tali rafia, blok note, pensil, setip, paper clip, tas, poster, majalah, undangan, kartu lebaran, surat, stiker,….
Banyak teman-temanmu yang masih lelap tidur. Seekor cicak yang sedang nikmat menjilati cangkir kopi di dekat komputermu yang masih menyala segera berlari ketika tanganku menggoyang-goyang mouse tanpa mouse pad itu. Aih…beberapa situs porno yang kau kunjungi belum kau tutup. Bahkan kau juga belum sig out dari room chatting. P
Entah mengapa sampai sekarang aku masih merasa belum benar-benar mengenalmu padahal sudah lama aku berteman denganmu. Aku sudah tidak ingat lagi kapan jabat tangan kita pertama kali. Yang pasti di sore hari, di bangku putih, di bawah pohon belimbing di halaman pendopomu. Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah mendengar namamu. Ya, kau sudah lama menjadi buah bibir beberapa temanku. Ada yang bilang kedatanganmu di kota ini, akan membuat kota ini berubah bahkan mengubah dunia. Ada yang bilang kau sangat cantik. Rugi kalau tidak pernah bertemu denganmu.
Waktu itu kucoba bertahan untuk tidak tertarik padamu. Namamu memang menarik tapi aku tidak mau tertipu oleh nama yang kadangkala bertolak belakang dengan orangnya.
Walau ada keinginan besar yang meledak-ledak di dada, dengan sekuat tenaga kutahan untuk tidak melangkahkan kaki mencarimu, sosok yang belum aku kenal. Aku hanya tahu namamu dan sedikit tentang aktivitasmu. Kukira memang belum tiba waktu untuk kita bertemu. Maka kusimpan rapat-rapat rasa rindu ini. Rindu ? Ah entahlah. Mungkin terlalu dini bila kusebut kata itu. Apa kata dunia kalau tahu aku rindu seseorang yang belum pernah kulihat. Ya, bagiku, haram hukumnya jatuh cinta sebelum beradu pandang. Dari pertarungan mata itu akan terlihat siapa yang akan jatuh. Dan jangan berharap kau bisa menjatuhkanku. Memangnya aku cowok apaan. Ya nggak?! Pokoknya aku tidak mau jatuh cinta padamu hanya karena kudengar banyak orang telah memuji dan mengagumimu.
Maka kujalani hari-hari sebagai mata-mata. Diam-diam memburumu. Selidik sana selidik sini. Nguping sana nguping sini. Tapi jangan salah. Aku tidak mencari tahu apakah kau masih kuliah atau sudah kerja, orang tuamu usaha apa, musik apa kesukaanmu, siapa idolamu, dan sebagainya. Aku lebih tertarik untuk bertanya mengapa tiba-tiba kau muncul di kota ini, di dunia ini. Apa aktivitasmu, dan apa yang kau cari.
Maka terkutuklah aku karena tiba-tiba ada bara menyala di dada waktu kudengar seseorang mendekatimu. Tapi sebagai mata-mata aku harus diam.
Waktu berlalu dan aku mulai mengenalmu sekeping demi sekeping. Kutemukan catatan-catatan kecil tentang dirimu terselip di beberapa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, brosur dan leaflet-leaflet. Maka kusimpulkan duniamu tidak jauh-jauh dari tulis menulis. Ada yang bilang kau suka menulis karena kau punya pengalaman aneh. Kau bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh mata orang kebanyakan.
Orang-orang sambil tertawa-tawa mengomentari gambar karikatur. Tapi malah terserang sesak nafas. Kau bilang ada darah merembes, menetes dan terus menetes dari luka goresan pensil.
Orang-orang dengan menikmati cerpen di koran minggu, tapi kau malah muntah-muntah begitu melihatnya. Kau bilang ada kepala di koran itu. Kepala dengan memar-memar biru. “Cerpen itu diketik di atas dahimu,” teriakmu, “pipi, hidung, mata juga!”
Kau tidak pernah bisa membaca novel karena setiap kali kau buka lembar-lembarnya akan terlihat dengan jelas, borgol, palu, tali, rantai, plaster, kawat berduri, dan batu. Benda-benda itu bergerak-gerak siap melompat mengeroyok tubuhmu kalau kau tidak cepet-cepat menutupnya.
Memang tidak semua novel, cerpen, atau puisi, yang kau baca seperti itu. Ada juga yang menyajikan kisah yang menarik. Sebuah kisah yang benar-benar bermanfaat; menghiburmu. Tapi kau tidak suka. Kau bilang langsung terserang kantuk. Setelah itu kau tertidur lelap hingga ibumu marah-marah karena susah dibangungkan. Kau mengaku seperti merasa mengalami mati rasa. Setelah bangun pun matamu susah sekali dibuka. Kau tidak bisa melihat wajah ibumu dengan jelas. Penglihatanmu kabur.
Oh kasihan sekali dirimu. Kau tidak pernah bisa menikmati lukisan. Kau bilang begitu kau coba melihatnya, kanvas itu segara melayang membungkus kepalamu, menyumpal mata, telinga, dan mulut, membelit tangan dan kakimu…
Begitu pula ketika kau mau membaca koran atau majalah.
Lalu… apa yang bisa kau baca, bisa kau lihat, bisa kau tonton kalau tv juga selalu segera melayang menghantam kepalamu saat kau pencet remotenya? Tapi kau masih hidup kan? Ya, kau harus tetap bertahan hidup setidaknya sampai kau menemuiku. Semakin cepat kau bertemu denganku itu akan semakin baik bagimu. Kau tahu apa yang akan membuat semangat hidupmu meningkat tinggi? Itulah aku.
Tapi maaf. Aku tidak akan melangkah mendekatimu. Ingat, aku hanya menunggumu. Walau begitu bukan berarti aku berhenti memburumu. Saat itu aku merasa semakin belum mengenalmu. Penyelidikan belum selesai. Aku masih memburu foto waktu kecilmu. Aku juga penasaran seperti apa tulisanmu. Apakah kau akan berkisah tentang bunga dan rindu, atau hama dan peluru, atau …
Suatu malam, seorang teman yang mengaku sudah bersahabat dengamu, menyodorkan sebuah terbitan padaku. Semacam majalah atau news letter tapi agak beda. Sampulnya full gambar. Tidak ada jajaran huruf besar-besar yang mengabarkan isi di balik sampul berwarna cerah ceria itu. Kutimang-timang majalah tipis itu, kubolak-balik, lalu kubuka. Ternyata aku sedang berhadapan dengan terbitanmu.
Aku mencoba tetap menguasai diri. Aku harus bersikap biasa agar temanku tidak curiga. Kucoba membaca tulisanmu tapi barisan-barisan kata mengabur, melayang membentuk bayanganmu yang sedang duduk manis tidak jauh di belakangku. Aku berusaha untuk tidak menoleh. Aku berharap kau yang akan menyapaku. Tapi saat itu aku kalah. Aku menoleh... Sial! Kau pura-pura tidak tahu dan melukis senyum sinis di bibirmu, senyum Liu Lu Sian pada Kwee Seng di dongeng Kopingho.
Kuhapus bayang itu dan kucoba membaca lagi. Setelah beberapa tulisan kubaca kuletakkan terbitan itu. Maaf, saat itu aku tidak tertarik dengan terbitanmu, terlalu banyak kalimat-kalimat panjang. Sungguh sangat jauh dari yang aku bayangkan. Kau, seorang yang selalu tersiksa oleh karya-karya orang lain tapi kok tulisanmu hanya seperti ini.
Mungkin kesimpulan itu terlalu tergesa karena saat itu tidak satu tulisanpun berhasil aku baca sampai selesai. Maaf.
Waktu terus berjalan dan jarak kita semakin dekat. Aku yakin, kau juga merasakan tapi kau sok cool. Jangan harap kubirakan diriku terseret, tertatih-tatih menghampirimu. Jangan lupa, semuanya sudah kupersiapkan. Aku hanya menunggu waktu. Kau pasti membutuhkanku. Tunggu saja.
Dan waktu itu telah tiba hampir setahun yang lalu.
Pagi itu untuk pertama kalinya kulihat kamarmu. Aih… berantakan sekali. Banyak sekali yang menyambut kedatanganku; kertas, asbak, gelas, korek, disket, abu dan puntung rokok, bekas batang korek, bungkus rokok yang telah kosong, bekas voucer pulsa HP, obeng, spidol, cutter, kotak tisu yang telah beralih fungsi, lem, lakban, solasi, amplop, kabel, disket, palstik, piring, HP, charger sendok, sajadah, tali rafia, blok note, pensil, setip, paper clip, tas, poster, majalah, undangan, kartu lebaran, surat, stiker,….
Banyak teman-temanmu yang masih lelap tidur. Seekor cicak yang sedang nikmat menjilati cangkir kopi di dekat komputermu yang masih menyala segera berlari ketika tanganku menggoyang-goyang mouse tanpa mouse pad itu. Aih…beberapa situs porno yang kau kunjungi belum kau tutup. Bahkan kau juga belum sig out dari room chatting. P
Ky yang baik…
Entah mengapa sampai sekarang aku masih merasa belum benar-benar mengenalmu padahal sudah lama aku berteman denganmu. Aku sudah tidak ingat lagi kapan jabat tangan kita pertama kali. Yang pasti di sore hari, di bangku putih, di bawah pohon belimbing di halaman pendopomu. Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah mendengar namamu. Ya, kau sudah lama menjadi buah bibir beberapa temanku. Ada yang bilang kedatanganmu di kota ini, akan membuat kota ini berubah bahkan mengubah dunia. Ada yang bilang kau sangat cantik. Rugi kalau tidak pernah bertemu denganmu.
Waktu itu kucoba bertahan untuk tidak tertarik padamu. Namamu memang menarik tapi aku tidak mau tertipu oleh nama yang kadangkala bertolak belakang dengan orangnya.
Walau ada keinginan besar yang meledak-ledak di dada, dengan sekuat tenaga kutahan untuk tidak melangkahkan kaki mencarimu, sosok yang belum aku kenal. Aku hanya tahu namamu dan sedikit tentang aktivitasmu. Kukira memang belum tiba waktu untuk kita bertemu. Maka kusimpan rapat-rapat rasa rindu ini. Rindu ? Ah entahlah. Mungkin terlalu dini bila kusebut kata itu. Apa kata dunia kalau tahu aku rindu seseorang yang belum pernah kulihat. Ya, bagiku, haram hukumnya jatuh cinta sebelum beradu pandang. Dari pertarungan mata itu akan terlihat siapa yang akan jatuh. Dan jangan berharap kau bisa menjatuhkanku. Memangnya aku cowok apaan. Ya nggak?! Pokoknya aku tidak mau jatuh cinta padamu hanya karena kudengar banyak orang telah memuji dan mengagumimu.
Maka kujalani hari-hari sebagai mata-mata. Diam-diam memburumu. Selidik sana selidik sini. Nguping sana nguping sini. Tapi jangan salah. Aku tidak mencari tahu apakah kau masih kuliah atau sudah kerja, orang tuamu usaha apa, musik apa kesukaanmu, siapa idolamu, dan sebagainya. Aku lebih tertarik untuk bertanya mengapa tiba-tiba kau muncul di kota ini, di dunia ini. Apa aktivitasmu, dan apa yang kau cari.
Maka terkutuklah aku karena tiba-tiba ada bara menyala di dada waktu kudengar seseorang mendekatimu. Tapi sebagai mata-mata aku harus diam.
Waktu berlalu dan aku mulai mengenalmu sekeping demi sekeping. Kutemukan catatan-catatan kecil tentang dirimu terselip di beberapa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, brosur dan leaflet-leaflet. Maka kusimpulkan duniamu tidak jauh-jauh dari tulis menulis. Ada yang bilang kau suka menulis karena kau punya pengalaman aneh. Kau bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh mata orang kebanyakan.
Orang-orang sambil tertawa-tawa mengomentari gambar karikatur. Tapi malah terserang sesak nafas. Kau bilang ada darah merembes, menetes dan terus menetes dari luka goresan pensil.
Orang-orang dengan menikmati cerpen di koran minggu, tapi kau malah muntah-muntah begitu melihatnya. Kau bilang ada kepala di koran itu. Kepala dengan memar-memar biru. “Cerpen itu diketik di atas dahimu,” teriakmu, “pipi, hidung, mata juga!”
Kau tidak pernah bisa membaca novel karena setiap kali kau buka lembar-lembarnya akan terlihat dengan jelas, borgol, palu, tali, rantai, plaster, kawat berduri, dan batu. Benda-benda itu bergerak-gerak siap melompat mengeroyok tubuhmu kalau kau tidak cepet-cepat menutupnya.
Memang tidak semua novel, cerpen, atau puisi, yang kau baca seperti itu. Ada juga yang menyajikan kisah yang menarik. Sebuah kisah yang benar-benar bermanfaat; menghiburmu. Tapi kau tidak suka. Kau bilang langsung terserang kantuk. Setelah itu kau tertidur lelap hingga ibumu marah-marah karena susah dibangungkan. Kau mengaku seperti merasa mengalami mati rasa. Setelah bangun pun matamu susah sekali dibuka. Kau tidak bisa melihat wajah ibumu dengan jelas. Penglihatanmu kabur.
Oh kasihan sekali dirimu. Kau tidak pernah bisa menikmati lukisan. Kau bilang begitu kau coba melihatnya, kanvas itu segara melayang membungkus kepalamu, menyumpal mata, telinga, dan mulut, membelit tangan dan kakimu…
Begitu pula ketika kau mau membaca koran atau majalah.
Lalu… apa yang bisa kau baca, bisa kau lihat, bisa kau tonton kalau tv juga selalu segera melayang menghantam kepalamu saat kau pencet remotenya? Tapi kau masih hidup kan? Ya, kau harus tetap bertahan hidup setidaknya sampai kau menemuiku. Semakin cepat kau bertemu denganku itu akan semakin baik bagimu. Kau tahu apa yang akan membuat semangat hidupmu meningkat tinggi? Itulah aku.
Tapi maaf. Aku tidak akan melangkah mendekatimu. Ingat, aku hanya menunggumu. Walau begitu bukan berarti aku berhenti memburumu. Saat itu aku merasa semakin belum mengenalmu. Penyelidikan belum selesai. Aku masih memburu foto waktu kecilmu. Aku juga penasaran seperti apa tulisanmu. Apakah kau akan berkisah tentang bunga dan rindu, atau hama dan peluru, atau …
Suatu malam, seorang teman yang mengaku sudah bersahabat dengamu, menyodorkan sebuah terbitan padaku. Semacam majalah atau news letter tapi agak beda. Sampulnya full gambar. Tidak ada jajaran huruf besar-besar yang mengabarkan isi di balik sampul berwarna cerah ceria itu. Kutimang-timang majalah tipis itu, kubolak-balik, lalu kubuka. Ternyata aku sedang berhadapan dengan terbitanmu.
Aku mencoba tetap menguasai diri. Aku harus bersikap biasa agar temanku tidak curiga. Kucoba membaca tulisanmu tapi barisan-barisan kata mengabur, melayang membentuk bayanganmu yang sedang duduk manis tidak jauh di belakangku. Aku berusaha untuk tidak menoleh. Aku berharap kau yang akan menyapaku. Tapi saat itu aku kalah. Aku menoleh... Sial! Kau pura-pura tidak tahu dan melukis senyum sinis di bibirmu, senyum Liu Lu Sian pada Kwee Seng di dongeng Kopingho.
Kuhapus bayang itu dan kucoba membaca lagi. Setelah beberapa tulisan kubaca kuletakkan terbitan itu. Maaf, saat itu aku tidak tertarik dengan terbitanmu, terlalu banyak kalimat-kalimat panjang. Sungguh sangat jauh dari yang aku bayangkan. Kau, seorang yang selalu tersiksa oleh karya-karya orang lain tapi kok tulisanmu hanya seperti ini.
Mungkin kesimpulan itu terlalu tergesa karena saat itu tidak satu tulisanpun berhasil aku baca sampai selesai. Maaf.
Waktu terus berjalan dan jarak kita semakin dekat. Aku yakin, kau juga merasakan tapi kau sok cool. Jangan harap kubirakan diriku terseret, tertatih-tatih menghampirimu. Jangan lupa, semuanya sudah kupersiapkan. Aku hanya menunggu waktu. Kau pasti membutuhkanku. Tunggu saja.
Dan waktu itu telah tiba hampir setahun yang lalu.
Pagi itu untuk pertama kalinya kulihat kamarmu. Aih… berantakan sekali. Banyak sekali yang menyambut kedatanganku; kertas, asbak, gelas, korek, disket, abu dan puntung rokok, bekas batang korek, bungkus rokok yang telah kosong, bekas voucer pulsa HP, obeng, spidol, cutter, kotak tisu yang telah beralih fungsi, lem, lakban, solasi, amplop, kabel, disket, palstik, piring, HP, charger sendok, sajadah, tali rafia, blok note, pensil, setip, paper clip, tas, poster, majalah, undangan, kartu lebaran, surat, stiker,….
Banyak teman-temanmu yang masih lelap tidur. Seekor cicak yang sedang nikmat menjilati cangkir kopi di dekat komputermu yang masih menyala segera berlari ketika tanganku menggoyang-goyang mouse tanpa mouse pad itu. Aih…beberapa situs porno yang kau kunjungi belum kau tutup. Bahkan kau juga belum sig out dari room chatting. Puluhan batang puntung rokok bergelimpangan bercampur abu di dalam asbak yang sudah gompel. Abu rokok berceceran mengotori karpet kumal di lantai. Sebendel kertas teronggok di atas CPU. Sepertinya naskah kumpulan cerpen yang sudah siap cetak.
Mungkin pagi ini kau balas dendam padaku karena sudah berkali-kali mengetuk kamar kosku tapi tidak menemukanku. Aku masih menunggu ruang dan waktu mepertemukan kita.
Dari kamarmu aku bisa menebak seperti apa dandananmu. Rambutmu kusut, wajah lusuh, pakaian kumal… Kalaupun misalnya ternyata kau tidak separah itu, aku yakin cara berpakainmu tetap tidak bisa disebut rapi.
Ternyata dugaanku salah. Kau modis. Hanya saja kau tidak memakai bedak dan lipstik. Kau menganggap bedak seperti bubuk beracun yang akan mepercepat menguapnya kecantikan dari wajahmu. Goresan lipstik di bibir kau samakan sebagai tanah liat membuatmu seperti merasa punya bibir yang tebal dan berat. “Pakai topeng kok di bibir.” Ah ada-ada saja kamu ini.
Baiklah. Kini saatnya aku belajar banyak padamu. Belajar pada teman baru yang asyik. Terimakasih, kau telah mengenalkanku dengan teman-temamu dan mengajakku bergabung di komunitasmu. Sebuah komunitas yang mati-matian menghidupi semua orang yang terlibat di dalamnya. Kau bilang kita berkomunitas untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan saling bantu.
Dengan senang hati kusambut uluran tanganmu. Lalu kau mengajaku melangkah bersama, bergandeng tangan, menyusuri jalan yang semakin kecil, jelek, turun naik, dan akhirnya sampai di daerah pelosok. Sore itu aku benar-benar merasa menemukan dunia baru. Kita bersama penduduk desa mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara lesungan. Malam harinya kulihat kau sangat menimati suara kayu yang berbenturan, beriringan dan tumpang-tindih dengan teriakan spontan dari penonton. Kau begitu menikmatinya…mungkin karena kau tidak bisa menikmati TV lagi.
Di hari yang lain kau mengajakku pergi. Tapi kau tidak menjelaskan mau kemana. “Mari berburu teman baru,” katamu. Ah kau memang suka aneh-aneh.
Entah sudah berapa tempat yang kau kenalkan padaku. Tempat yang baru bagi mata dan kepalaku. Tapi aku masih belum bisa mengenalmu… aku hanya mengenalmu dari potongan puzel yang belum lengkap. Aku hanya tahu kau suka menulis.
Sudah lama kudengar kau sedang menyelesaikan novel pertamamu. Beberapa waktu yang lalu sudah kulihat iklan yang mengabarkan bahwa novelmu itu segera terbit. Maka kuberlari ke toko buku. kucari-cari dan kutanyakan novelmu di hampir semua toko buku. Tidak ada. Bahkan para karyawan toko buku yang kutanyai, mengaku belum pernah mendengar namamu. Aku maklum, kau bukan artis. Tapi aku sebel banget. Semakin sebel lagi setelah tahu ternyata novel yang kau gembor-gemborkan itu sampai sekarangpun belum rampung.
Tapi aku tetap salut dan kagum padamu. Kau selalu berusaha mencari bentuk tulisan yang baru dan mecoba mensosialisasikan ide-ide atau gagasan perubahan sosial melalui karya-karyamu. Aku tahu mengapa novelmu tak kunjung rampung. Kau bukan penulis professional. Maksudku, kau tidak hanya menulis. Ternyata kau juga ikut menggarap pementasan teater, pertunjukan musik, workshop. Dan satu hal yang paling banyak menyedot perhatianmu adalah diriku. Ayo ngaku saja lah.
Ya ternyata kau bukan penulis, kau pekerja budaya. Dan masih muda.
Dulu aku tidak tahu mengapa ada yang memberimu julukan “Sang penulis muda yang lain”. Julukan itu diucapkan dengan nada agak sinis. Sekarang, aku tetap tidak tahu. Hanya saja kalau boleh aku menebak, mungkin ini ada hubungannya dengan yang kubilang tadi; kau tidak hanya menulis, kau kuli kabudayan, bahkan mungkin kau juga akan mendapat julukan “Sang aktivis gerakan sosial”. Tapi menurutku,lebih tepatnya diberi tambahan kata “yang lain”. Mengapa ? Karena kau funky. Hi hi hi. Jadi, sekarang kuanugrahkan padamu sebuah julukan baru ; “Si aktivis gerakan sosial yang lain dan funky”. Cocok kan dengan t-shirt gaul ksesukaanmu. T-shirt pink dengan gambar wanita bersayap seperti bidadari sedang bergaya dan ada tulisan: Dian Sastro for President. “sebuah kampanye,” katamu. Mungkin itu sebabnya pemilu kemarin kau golput.
Kau cerdas dan kreatif dan trampil. Entah apa yang ada di kepalamu. Akan tetapi kadang kau terlihat urakan, norak dan menyebalkan. Lihat catatan aktivitasmu sehari semalam kemarin yang kubuat ini;
Ibu sudah ingin istirahat di tempat tidur, tapi kau masih meminta dibuatkan kopi susu dan mie rebus dengan telur setengah matang. Kau menunggu pesananmu sambil ongkang-ongkang di kursi goyang sambil nonton TV. Kau biarkan kepalamu memar dan biru-biru ditimpuki tv setiap kali kau memencet tombol-tombol remotnya.
Kau begadang. Menghabiskan malam dan rokok.
Kau masih mendengkur saat ibu dan bapak mulai sibuk membersihkan piring dan gelas yang kau biarkan berserakan di meja berserta abu, puntung dan bungkus rokok serta kertas-kertas.
Kau membuka mata ketika hari sudah panas dan kau tidak segera mandi. Kau mulai hari dengan kopi dan ngrumpi, ngrokok sambil jongkok di bangku taman. Kau tidak kerja hingga malam tiba. Untung saja yang seperti itu tidak terjadi setiap hari. Hanya kadang-kadang. Tapi itu sudah cukup menyebalkan bagiku. Ya, maaf lho ya.
Kau juga suka Vodka. Suka nonton film dari yang animasi sampai semi bahkan bokep. Dari Hollywood sampai yang indie.
Ibu pernah mengeluhkan kesopananmu. Kadang kau letakkan kaki di atas kursi saat duduk bahkan kau julurkan di atas meja menghadap muka orang lain. Kalau Ibu menegurmu, kau bilang aku tidak menghormati atau menghinamu dengan telapak kaki.
Nama-nama binatanng, caci-maki, dan sumpah serapah tumpah setiap hari dari mulutmu. “Mari kita memaki sepuas hati, kawan. Memaki dengan penuh kasih sayang.” Ya, makianmu kudengar bukan bagian dari perkelahian. Kalaupun kadang yang kau teriakkan itu benar-benar makian karena emosi, tentu kita akan baikan dan segera menjalin persahabatan yang lebih erat.
Kau juga suka rapat, debat, , sms-an atau miscall-miscall-an dan chating. Tapi kau tidak suka olah raga dan agak manja.
Kau penulis. Menulis apa saja bahkan menulis rayuan gobal lewat sms. Bahkan seringkali menulis catatan hutang makan tiap hari di warung nasi.
Kau seringkali mengajak rapat sampai lelah lalu meninggalkan meja bundar itu dengan serakan sampahmu; puntung, abu dan bungkus rokok, kertas, asbak, gelas, korek, disket, bekas batang korek, bungkus rokok yang telah kosong, bekas voucer pulsa HP, spidol, amplop, kabel, disket, palstik, piring, HP, charger, sendok, blok note, pensil, setip, paper clip, tas, poster, majalah, undangan, surat, stiker, …
Tapi bagaimanapun aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Kau cantik. Dandananmu modis. Kau suka pakai kaos warna ngejreng; kuning dan merah menyala dengan tulisan Zlink dan di belakangnya bertuliskan namamu besar-besar; AKY. Aih norak-norak bergembira dech kamu. Gemeeees aku. Iih.
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Faiq Aminuddin
Entah mengapa sampai sekarang aku masih merasa belum benar-benar mengenalmu padahal sudah lama aku berteman denganmu. Aku sudah tidak ingat lagi kapan jabat tangan kita pertama kali. Yang pasti di sore hari, di bangku putih, di bawah pohon belimbing di halaman pendopomu. Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah mendengar namamu. Ya, kau sudah lama menjadi buah bibir beberapa temanku. Ada yang bilang kedatanganmu di kota ini, akan membuat kota ini berubah bahkan mengubah dunia. Ada yang bilang kau sangat cantik. Rugi kalau tidak pernah bertemu denganmu.
Waktu itu kucoba bertahan untuk tidak tertarik padamu. Namamu memang menarik tapi aku tidak mau tertipu oleh nama yang kadangkala bertolak belakang dengan orangnya.
Walau ada keinginan besar yang meledak-ledak di dada, dengan sekuat tenaga kutahan untuk tidak melangkahkan kaki mencarimu, sosok yang belum aku kenal. Aku hanya tahu namamu dan sedikit tentang aktivitasmu. Kukira memang belum tiba waktu untuk kita bertemu. Maka kusimpan rapat-rapat rasa rindu ini. Rindu ? Ah entahlah. Mungkin terlalu dini bila kusebut kata itu. Apa kata dunia kalau tahu aku rindu seseorang yang belum pernah kulihat. Ya, bagiku, haram hukumnya jatuh cinta sebelum beradu pandang. Dari pertarungan mata itu akan terlihat siapa yang akan jatuh. Dan jangan berharap kau bisa menjatuhkanku. Memangnya aku cowok apaan. Ya nggak?! Pokoknya aku tidak mau jatuh cinta padamu hanya karena kudengar banyak orang telah memuji dan mengagumimu.
Maka kujalani hari-hari sebagai mata-mata. Diam-diam memburumu. Selidik sana selidik sini. Nguping sana nguping sini. Tapi jangan salah. Aku tidak mencari tahu apakah kau masih kuliah atau sudah kerja, orang tuamu usaha apa, musik apa kesukaanmu, siapa idolamu, dan sebagainya. Aku lebih tertarik untuk bertanya mengapa tiba-tiba kau muncul di kota ini, di dunia ini. Apa aktivitasmu, dan apa yang kau cari.
Maka terkutuklah aku karena tiba-tiba ada bara menyala di dada waktu kudengar seseorang mendekatimu. Tapi sebagai mata-mata aku harus diam.
Waktu berlalu dan aku mulai mengenalmu sekeping demi sekeping. Kutemukan catatan-catatan kecil tentang dirimu terselip di beberapa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, brosur dan leaflet-leaflet. Maka kusimpulkan duniamu tidak jauh-jauh dari tulis menulis. Ada yang bilang kau suka menulis karena kau punya pengalaman aneh. Kau bisa melihat yang tidak bisa dilihat oleh mata orang kebanyakan.
Orang-orang sambil tertawa-tawa mengomentari gambar karikatur. Tapi malah terserang sesak nafas. Kau bilang ada darah merembes, menetes dan terus menetes dari luka goresan pensil.
Orang-orang dengan menikmati cerpen di koran minggu, tapi kau malah muntah-muntah begitu melihatnya. Kau bilang ada kepala di koran itu. Kepala dengan memar-memar biru. “Cerpen itu diketik di atas dahimu,” teriakmu, “pipi, hidung, mata juga!”
Kau tidak pernah bisa membaca novel karena setiap kali kau buka lembar-lembarnya akan terlihat dengan jelas, borgol, palu, tali, rantai, plaster, kawat berduri, dan batu. Benda-benda itu bergerak-gerak siap melompat mengeroyok tubuhmu kalau kau tidak cepet-cepat menutupnya.
Memang tidak semua novel, cerpen, atau puisi, yang kau baca seperti itu. Ada juga yang menyajikan kisah yang menarik. Sebuah kisah yang benar-benar bermanfaat; menghiburmu. Tapi kau tidak suka. Kau bilang langsung terserang kantuk. Setelah itu kau tertidur lelap hingga ibumu marah-marah karena susah dibangungkan. Kau mengaku seperti merasa mengalami mati rasa. Setelah bangun pun matamu susah sekali dibuka. Kau tidak bisa melihat wajah ibumu dengan jelas. Penglihatanmu kabur.
Oh kasihan sekali dirimu. Kau tidak pernah bisa menikmati lukisan. Kau bilang begitu kau coba melihatnya, kanvas itu segara melayang membungkus kepalamu, menyumpal mata, telinga, dan mulut, membelit tangan dan kakimu…
Begitu pula ketika kau mau membaca koran atau majalah.
Lalu… apa yang bisa kau baca, bisa kau lihat, bisa kau tonton kalau tv juga selalu segera melayang menghantam kepalamu saat kau pencet remotenya? Tapi kau masih hidup kan? Ya, kau harus tetap bertahan hidup setidaknya sampai kau menemuiku. Semakin cepat kau bertemu denganku itu akan semakin baik bagimu. Kau tahu apa yang akan membuat semangat hidupmu meningkat tinggi? Itulah aku.
Tapi maaf. Aku tidak akan melangkah mendekatimu. Ingat, aku hanya menunggumu. Walau begitu bukan berarti aku berhenti memburumu. Saat itu aku merasa semakin belum mengenalmu. Penyelidikan belum selesai. Aku masih memburu foto waktu kecilmu. Aku juga penasaran seperti apa tulisanmu. Apakah kau akan berkisah tentang bunga dan rindu, atau hama dan peluru, atau …
Suatu malam, seorang teman yang mengaku sudah bersahabat dengamu, menyodorkan sebuah terbitan padaku. Semacam majalah atau news letter tapi agak beda. Sampulnya full gambar. Tidak ada jajaran huruf besar-besar yang mengabarkan isi di balik sampul berwarna cerah ceria itu. Kutimang-timang majalah tipis itu, kubolak-balik, lalu kubuka. Ternyata aku sedang berhadapan dengan terbitanmu.
Aku mencoba tetap menguasai diri. Aku harus bersikap biasa agar temanku tidak curiga. Kucoba membaca tulisanmu tapi barisan-barisan kata mengabur, melayang membentuk bayanganmu yang sedang duduk manis tidak jauh di belakangku. Aku berusaha untuk tidak menoleh. Aku berharap kau yang akan menyapaku. Tapi saat itu aku kalah. Aku menoleh... Sial! Kau pura-pura tidak tahu dan melukis senyum sinis di bibirmu, senyum Liu Lu Sian pada Kwee Seng di dongeng Kopingho.
Kuhapus bayang itu dan kucoba membaca lagi. Setelah beberapa tulisan kubaca kuletakkan terbitan itu. Maaf, saat itu aku tidak tertarik dengan terbitanmu, terlalu banyak kalimat-kalimat panjang. Sungguh sangat jauh dari yang aku bayangkan. Kau, seorang yang selalu tersiksa oleh karya-karya orang lain tapi kok tulisanmu hanya seperti ini.
Mungkin kesimpulan itu terlalu tergesa karena saat itu tidak satu tulisanpun berhasil aku baca sampai selesai. Maaf.
Waktu terus berjalan dan jarak kita semakin dekat. Aku yakin, kau juga merasakan tapi kau sok cool. Jangan harap kubirakan diriku terseret, tertatih-tatih menghampirimu. Jangan lupa, semuanya sudah kupersiapkan. Aku hanya menunggu waktu. Kau pasti membutuhkanku. Tunggu saja.
Dan waktu itu telah tiba hampir setahun yang lalu.
Pagi itu untuk pertama kalinya kulihat kamarmu. Aih… berantakan sekali. Banyak sekali yang menyambut kedatanganku; kertas, asbak, gelas, korek, disket, abu dan puntung rokok, bekas batang korek, bungkus rokok yang telah kosong, bekas voucer pulsa HP, obeng, spidol, cutter, kotak tisu yang telah beralih fungsi, lem, lakban, solasi, amplop, kabel, disket, palstik, piring, HP, charger sendok, sajadah, tali rafia, blok note, pensil, setip, paper clip, tas, poster, majalah, undangan, kartu lebaran, surat, stiker,….
Banyak teman-temanmu yang masih lelap tidur. Seekor cicak yang sedang nikmat menjilati cangkir kopi di dekat komputermu yang masih menyala segera berlari ketika tanganku menggoyang-goyang mouse tanpa mouse pad itu. Aih…beberapa situs porno yang kau kunjungi belum kau tutup. Bahkan kau juga belum sig out dari room chatting. Puluhan batang puntung rokok bergelimpangan bercampur abu di dalam asbak yang sudah gompel. Abu rokok berceceran mengotori karpet kumal di lantai. Sebendel kertas teronggok di atas CPU. Sepertinya naskah kumpulan cerpen yang sudah siap cetak.
Mungkin pagi ini kau balas dendam padaku karena sudah berkali-kali mengetuk kamar kosku tapi tidak menemukanku. Aku masih menunggu ruang dan waktu mepertemukan kita.
Dari kamarmu aku bisa menebak seperti apa dandananmu. Rambutmu kusut, wajah lusuh, pakaian kumal… Kalaupun misalnya ternyata kau tidak separah itu, aku yakin cara berpakainmu tetap tidak bisa disebut rapi.
Ternyata dugaanku salah. Kau modis. Hanya saja kau tidak memakai bedak dan lipstik. Kau menganggap bedak seperti bubuk beracun yang akan mepercepat menguapnya kecantikan dari wajahmu. Goresan lipstik di bibir kau samakan sebagai tanah liat membuatmu seperti merasa punya bibir yang tebal dan berat. “Pakai topeng kok di bibir.” Ah ada-ada saja kamu ini.
Baiklah. Kini saatnya aku belajar banyak padamu. Belajar pada teman baru yang asyik. Terimakasih, kau telah mengenalkanku dengan teman-temamu dan mengajakku bergabung di komunitasmu. Sebuah komunitas yang mati-matian menghidupi semua orang yang terlibat di dalamnya. Kau bilang kita berkomunitas untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan saling bantu.
Dengan senang hati kusambut uluran tanganmu. Lalu kau mengajaku melangkah bersama, bergandeng tangan, menyusuri jalan yang semakin kecil, jelek, turun naik, dan akhirnya sampai di daerah pelosok. Sore itu aku benar-benar merasa menemukan dunia baru. Kita bersama penduduk desa mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara lesungan. Malam harinya kulihat kau sangat menimati suara kayu yang berbenturan, beriringan dan tumpang-tindih dengan teriakan spontan dari penonton. Kau begitu menikmatinya…mungkin karena kau tidak bisa menikmati TV lagi.
Di hari yang lain kau mengajakku pergi. Tapi kau tidak menjelaskan mau kemana. “Mari berburu teman baru,” katamu. Ah kau memang suka aneh-aneh.
Entah sudah berapa tempat yang kau kenalkan padaku. Tempat yang baru bagi mata dan kepalaku. Tapi aku masih belum bisa mengenalmu… aku hanya mengenalmu dari potongan puzel yang belum lengkap. Aku hanya tahu kau suka menulis.
Sudah lama kudengar kau sedang menyelesaikan novel pertamamu. Beberapa waktu yang lalu sudah kulihat iklan yang mengabarkan bahwa novelmu itu segera terbit. Maka kuberlari ke toko buku. kucari-cari dan kutanyakan novelmu di hampir semua toko buku. Tidak ada. Bahkan para karyawan toko buku yang kutanyai, mengaku belum pernah mendengar namamu. Aku maklum, kau bukan artis. Tapi aku sebel banget. Semakin sebel lagi setelah tahu ternyata novel yang kau gembor-gemborkan itu sampai sekarangpun belum rampung.
Tapi aku tetap salut dan kagum padamu. Kau selalu berusaha mencari bentuk tulisan yang baru dan mecoba mensosialisasikan ide-ide atau gagasan perubahan sosial melalui karya-karyamu. Aku tahu mengapa novelmu tak kunjung rampung. Kau bukan penulis professional. Maksudku, kau tidak hanya menulis. Ternyata kau juga ikut menggarap pementasan teater, pertunjukan musik, workshop. Dan satu hal yang paling banyak menyedot perhatianmu adalah diriku. Ayo ngaku saja lah.
Ya ternyata kau bukan penulis, kau pekerja budaya. Dan masih muda.
Dulu aku tidak tahu mengapa ada yang memberimu julukan “Sang penulis muda yang lain”. Julukan itu diucapkan dengan nada agak sinis. Sekarang, aku tetap tidak tahu. Hanya saja kalau boleh aku menebak, mungkin ini ada hubungannya dengan yang kubilang tadi; kau tidak hanya menulis, kau kuli kabudayan, bahkan mungkin kau juga akan mendapat julukan “Sang aktivis gerakan sosial”. Tapi menurutku,lebih tepatnya diberi tambahan kata “yang lain”. Mengapa ? Karena kau funky. Hi hi hi. Jadi, sekarang kuanugrahkan padamu sebuah julukan baru ; “Si aktivis gerakan sosial yang lain dan funky”. Cocok kan dengan t-shirt gaul ksesukaanmu. T-shirt pink dengan gambar wanita bersayap seperti bidadari sedang bergaya dan ada tulisan: Dian Sastro for President. “sebuah kampanye,” katamu. Mungkin itu sebabnya pemilu kemarin kau golput.
Kau cerdas dan kreatif dan trampil. Entah apa yang ada di kepalamu. Akan tetapi kadang kau terlihat urakan, norak dan menyebalkan. Lihat catatan aktivitasmu sehari semalam kemarin yang kubuat ini;
Ibu sudah ingin istirahat di tempat tidur, tapi kau masih meminta dibuatkan kopi susu dan mie rebus dengan telur setengah matang. Kau menunggu pesananmu sambil ongkang-ongkang di kursi goyang sambil nonton TV. Kau biarkan kepalamu memar dan biru-biru ditimpuki tv setiap kali kau memencet tombol-tombol remotnya.
Kau begadang. Menghabiskan malam dan rokok.
Kau masih mendengkur saat ibu dan bapak mulai sibuk membersihkan piring dan gelas yang kau biarkan berserakan di meja berserta abu, puntung dan bungkus rokok serta kertas-kertas.
Kau membuka mata ketika hari sudah panas dan kau tidak segera mandi. Kau mulai hari dengan kopi dan ngrumpi, ngrokok sambil jongkok di bangku taman. Kau tidak kerja hingga malam tiba. Untung saja yang seperti itu tidak terjadi setiap hari. Hanya kadang-kadang. Tapi itu sudah cukup menyebalkan bagiku. Ya, maaf lho ya.
Kau juga suka Vodka. Suka nonton film dari yang animasi sampai semi bahkan bokep. Dari Hollywood sampai yang indie.
Ibu pernah mengeluhkan kesopananmu. Kadang kau letakkan kaki di atas kursi saat duduk bahkan kau julurkan di atas meja menghadap muka orang lain. Kalau Ibu menegurmu, kau bilang aku tidak menghormati atau menghinamu dengan telapak kaki.
Nama-nama binatanng, caci-maki, dan sumpah serapah tumpah setiap hari dari mulutmu. “Mari kita memaki sepuas hati, kawan. Memaki dengan penuh kasih sayang.” Ya, makianmu kudengar bukan bagian dari perkelahian. Kalaupun kadang yang kau teriakkan itu benar-benar makian karena emosi, tentu kita akan baikan dan segera menjalin persahabatan yang lebih erat.
Kau juga suka rapat, debat, , sms-an atau miscall-miscall-an dan chating. Tapi kau tidak suka olah raga dan agak manja.
Kau penulis. Menulis apa saja bahkan menulis rayuan gobal lewat sms. Bahkan seringkali menulis catatan hutang makan tiap hari di warung nasi.
Kau seringkali mengajak rapat sampai lelah lalu meninggalkan meja bundar itu dengan serakan sampahmu; puntung, abu dan bungkus rokok, kertas, asbak, gelas, korek, disket, bekas batang korek, bungkus rokok yang telah kosong, bekas voucer pulsa HP, spidol, amplop, kabel, disket, palstik, piring, HP, charger, sendok, blok note, pensil, setip, paper clip, tas, poster, majalah, undangan, surat, stiker, …
Tapi bagaimanapun aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Kau cantik. Dandananmu modis. Kau suka pakai kaos warna ngejreng; kuning dan merah menyala dengan tulisan Zlink dan di belakangnya bertuliskan namamu besar-besar; AKY. Aih norak-norak bergembira dech kamu. Gemeeees aku. Iih.
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Faiq Aminuddin